Tampilkan postingan dengan label ponpes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ponpes. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2025

​ ​SIDOARJO BERDUKA, HUKUM BERGERAK: KASUS ROBOHNYA PONDOK PESANTREN AL KHOZINY MASUK TAHAP PENYIDIKAN




​Sidoarjo, MCE - Tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, memasuki babak baru yang krusial. Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur tak buang waktu, resmi menaikkan status penanganan kasus ini dari penyelidikan menjadi penyidikan. Langkah tegas ini diambil usai tim gabungan Polda Jatim merampungkan gelar perkara, menandakan adanya dugaan kuat tindak pidana dalam insiden yang memilukan tersebut. Sabtu (11/10/2025). 


​Mekanisme hukum kini berjalan lebih intensif. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Jules Abraham Abast, S.I.K., menegaskan bahwa pengusutan akan dilakukan secara komprehensif sesuai dengan prosedur penyidikan yang berlaku.


​"Hasil kelanjutan seperti yang disampaikan oleh Bapak Kapolda kemarin, untuk penanganan proses hukum dari robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo, Polda Jatim telah melakukan gelar perkara dan hasilnya peningkatan status dari proses penyelidikan menjadi penyidikan," jelas Kombes Pol. Jules Abraham Abast pada Kamis (9/10).


​Fokus utama penyidik saat ini adalah mengumpulkan alat bukti yang solid. Proses pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang dinilai relevan—mulai dari pengelola, kontraktor, hingga pihak-pihak terkait pembangunan—akan terus digencarkan.


​Lebih lanjut, peran keterangan ahli menjadi kunci utama. Kombes Pol. Jules Abraham Abast menyebut bahwa keterangan ahli nantinya menjadi salah satu alat bukti yang dapat digunakan untuk proses pembuktian peristiwa pidana.


​Peningkatan status ini memberikan harapan bagi publik akan terungkapnya secara jelas penyebab utama tragedi ini dan penentuan pihak yang harus bertanggung jawab atas ambruknya fasilitas pendidikan tersebut. Polda Jatim bertekad mengusut tuntas kasus ini, memastikan bahwa keadilan ditegakkan di balik puing-puing Pondok Pesantren Al Khoziny. (bp). 

Sumber: Divisi Humas Polri

Senin, 06 Oktober 2025

​JERIT PILU DI BAWAH RERUNTUHAN: Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny Tembus 63 Jiwa, Duka Mendalam Selimuti Bangsa




​Sidoarjo, MCE - Senin, 6 Oktober 2025. Tanggal itu akan selamanya terukir dengan tinta duka dalam sejarah bangsa. Bukan sebagai peringatan hari besar, melainkan sebagai penanda tragedi kemanusiaan yang merenggut puluhan nyawa di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo yang roboh pada 30/9/2025. Hingga hari itu, operasi pencarian dan evakuasi harus dihentikan sementara, menyisakan kegetiran yang tak terperikan setelah tim SAR gabungan mengumumkan angka yang mengguncang: 63 korban tewas telah berhasil diangkat dari balik onggokan beton dan puing-puing. Selasa (7/10/2025). 


​Tragedi ini berawal dari keruntuhan mendadak bangunan utama kompleks pesantren yang terjadi pada dini hari. Saat kebanyakan santri dan pengajar tengah terlelap dalam tidur, mimpi indah mereka seketika berubah menjadi mimpi buruk yang memekakkan telinga. Suara gemuruh dahsyat yang menyayat keheningan malam diikuti dengan jeritan dan tangisan, mengawali babak paling gelap dalam sejarah Ponpes Al Khoziny.


​Area yang dulunya ramai dengan lantunan ayat suci dan gelak tawa para santri kini sunyi, hanya diisi oleh suara alat berat dan desahan lelah para relawan. Debu tebal menyelimuti segalanya, menjadi saksi bisu betapa cepatnya kehidupan bisa direnggut. Setiap kali tim evakuasi berhasil mengangkat satu jenazah, bukan sorak kemenangan yang terdengar, melainkan isak tangis pilu yang pecah dari sanak keluarga yang setia menanti di luar garis keamanan.


​Korban yang tewas adalah mereka yang seharusnya menjadi generasi penerus, para calon ulama dan pemimpin masa depan. Mereka datang dari berbagai pelosok negeri, membawa harapan besar orang tua untuk mendalami ilmu agama. Namun, takdir berkata lain. Harapan itu kini terkubur bersama reruntuhan, meninggalkan lubang menganga di hati keluarga dan seluruh komunitas pesantren.


​Dengan bertambahnya jumlah korban, fokus pun mulai bergeser. Selain duka dan simpati, kini muncul pertanyaan besar yang menggantung di udara: Apa yang menyebabkan bangunan vital ini ambruk? Penyelidikan teknis telah dimulai untuk mengusut dugaan kelalaian konstruksi, faktor usia bangunan, atau bahkan potensi faktor alam. Masyarakat menuntut jawaban yang transparan dan akuntabel. Tragedi ini bukan hanya soal korban, tapi juga tentang pertanggungjawaban agar musibah serupa tak terulang.


​Kepala daerah setempat telah menetapkan masa berkabung selama tujuh hari. Bendera setengah tiang dikibarkan, bukan sekadar simbol, melainkan manifestasi dari duka kolektif yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Donasi dan bantuan terus mengalir deras, menunjukkan solidaritas bangsa di tengah cobaan berat.


​Tragedi Ponpes Al Khoziny adalah pengingat pahit tentang kerapuhan hidup dan pentingnya integritas dalam pembangunan. Angka 63 bukan sekadar statistik; itu adalah 63 kisah yang terhenti, 63 impian yang lenyap, dan 63 keluarga yang hancur. Saat debu mulai mengendap, yang tersisa adalah tugas berat untuk mengobati luka batin, membangun kembali, dan memastikan keadilan ditegakkan bagi setiap jiwa yang gugur dalam tragedi memilukan ini.


Semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. (bp). 

Jumat, 25 Februari 2022

Wabup Tuban Hadiri Pembangunan Ponpes Pertama di Desa Banjaragung




TUBAN, MCE - Wakil Bupati Tuban, H. Riyadi, SH., menghadiri peletakan batu pertama Pembangunan Gedung Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Lembaga Pendidikan Masjid Tasyakur di desa Banjaragung, Rengel, Jumat (25/02/2022). Hadir pada kegiatan ini, Camat Rengel, Eko Wardono bersama Forkopimka Rengel, Kepala Desa dan perangkat desa, serta warga sekitar dan santri.


Dalam sambutannya, Wabup Tuban, Riyadi, SH., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak dan warga yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan pondok pesantren. Harapannya, kehadiran ponpes membawa manfaat utamanya warga desa Banjaragung. "Apa yang telah disumbangkan pada pembangunan pondok akan menjadi pahala bagi kita semua," tuturnya.



Wabup Tuban menerangkan pondok pesantren menjadi salah satu wahana pendidikan sekaligus pembentukan karakter anak. Ilmu dan penguatan akhlak menjadi pondasi dan bekal anak di masa mendatang. Anak-anak saat ini menjadi investasi di masa mendatang.


Keberhasilan pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak. Pemerintah daerah mendukung peningkatan infrastruktur lembaga pendidikan. Guru maupun ustadz berperan dalam pengajaran ilmu pengetahuan yang diterima anak. Sedangkan, orang tua diharapkan mendukung pendidikan anak masing-masing. "Harus saling menguatkan dan membangun kerjasama sehati," ungkapnya.



Wabup asal desa Maibit ini mengingatkan masyarakat agar selalu waspada terhadap penyebaran Covid-19 di kabupaten Tuban. Disiplin protokol kesehatan dan mengikuti program vaksinasi Covid-19 akan mendukung keberhasilan penanganan Covid-19 di kabupaten Tuban.


Kepala Desa Banjaragung, Sudarman menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan doa restu Wabup Tuban. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi warga desa untuk bersama-sama saling bergotong royong.  


Sudarman yang juga Pembina Ponpes Lembaga Pendidikan Masjid Tasyakur berterimakasih kepada semua pihak yang ikut menyokong pembangunan ponpes yang baru pertama ada di Desa Banjaragung. "Semoga bermanfaat bagi warga Desa Banjaragung pada khususnya, dan seluruh masyarakat Kabupaten Tuban pada umumnya," ujarnya. (bp).

Senin, 14 Februari 2022

Pemkab Tuban Dukung Kemajuan Ponpes di Kabupaten Tuban




TUBAN, MCE - Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, SE., hadiri Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) dan Pembinaan Pengelolaan Ponpes Se-kabupaten Tuban, Senin (14/02/2022) di Gedung Asrama Haji Tuban. Bupati Tuban melakukan dialog dengan jajaran pengurus pondok pesantren.


Pada kesempatan ini, diserahkan Piagam Statistik Pondok Pesantren dan Surat Keputusan dari Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI. Adapun penyerahan dilakukan perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban kepada 107 lembaga.


Dalam sambutannya, Bupati Tuban menyatakan dokumen yang diterima lembaga Ponpes diharapkan meningkatkan aspek legalitas dan hukum. Dengan demikian akan memperkuat posisi pesantren. “Pemkab Tuban siap memberi pendampingan agar tidak terjadi kesalahan administrasi,” ungkapnya. 


Lebih lanjut, saat ini Pemkab Tuban tengah melakukan standarisasi pendidikan, termasuk kelompok lembaga pendidikan pesantren. Karenanya, pengurus pesantren agar dapat memberi masukan dan saran. Selanjutnya, akan menjadi bahan pertimbangan penyusunan kebijakan 2022 ini.



Mas Bupati menerangkan Pemkab Tuban dan DPRD Tuban telah mengesahkan Perda berkaitan pengelolaan dan operasionalisasi pesantren di Kabupaten Tuban. Hal tersebut sebagai bentuk kepedulian dan komitmen Pemkab Tuban dan legislatif dalam memajukan dan memakmurkan pondok pesantren.


“Sehingga mampu memajukan pesantren dan mewujudkan kemandirian bagi santri dan santriwati di Kabupaten Tuban,” serunya.


Menurut Mas Bupati, kyai dan warga pesantren berperan penting dalam proses pembentukan karakter masyarakat Kabupaten Tuban. Memiliki karakter berbudi luhur menjadi pondasi penting dalam pembangunan. 


Sementara itu, Ketua FKPP, KH. Ansori mengatakan kehadiran Bupati menjadi motivasi bagi kalangan Ponpes di Kabupaten Tuban. Sekaligus wujud sinergitas yang kian kuat antara Ulama dan Umara (Pemkab Tuban) dalam berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat Kabupaten Tuban.


Ansori berharap adanya pendampingan Pemkab Tuban dalam pengelolaan ponpes. Mengingat pemerintah pusat telah mengesahkan UU no. 18 tentang Pesantren. Karenanya, dukungan "Pemkab Tuban saat kami harapkan dalam memajukan pendidikan di lingkungan Ponpes," ujarnya. (bp).

Sabtu, 17 Juli 2021

Gerai Vaksinasi TNI-Polri Sasar Pondok Pesantren di Bojonegoro






BOJONEGORO, corruptionexpose.com - Dalam upaya mensukseskan program Pemerintah Pusat dalam percepatan program vaksinasi guna mencegah penyebaran Covid-19, khususnya di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Polres Bojonegoro menggelar Gerai Vaksinasi TNI-Polri di pondok pesantren (Ponpes) Adnan Al Charish Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.


Sebelum vaksinasi digelar, Kapolres Bojonegoro, AKBP EG Pandia menyampaikan bahwa tujuan utama program vaksinasi massal adalah diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Covid-19, mengurangi transmisi/penularan Covid-19, melindungi dan memperkuat sistem kekebalan kelompok (herd immunity) secara menyeluruh serta menjaga produktifitas dan meminimalkan dampak sosial dan ekonomi bisa segera tercapai.


“Dengan dilakukannya vaksinasi minimal ada protect (melindungi) tubuh kita. Tetapi walau sudah dilakukan vaksinasi tetap menjaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan selama wabah pandemi masih ada disekitaran kita,” tandas Kapolres Bojonegoro, AKBP EG Pandia, Sabtu (17/7/2021).


AKBP EG Pandia menambahkan Gerai vaksinasi TNI-Polri di pondok pesantren Adnan Al Charish diberikan agar para santri dan tenaga pendidik di ponpes memiliki imunitas dan kekebalan agar tidak mudah terpapar Covid-19 dan tetap mematuhi protokol kesehatan yakni 5M.


“Harapannya program vaksinasi santri dan lingkungan pesantren, aktivitas yang dilaksanakan di pondok pesantren kembali berjalan dengan baik dan pesantren bisa terbebas dari Covid 19. Meski sudah mendapatkan vaksin, santri dan lingkungan pesantren harus tetap menerapkan protokol kesehatan,” tandasnya.


Sementara itu, ditempat yang sama pengasuh ponpes Adnan Al Charish Bojonegoro KH. Sentot Agus Mangku Alam atau Gus Sentot menyampaikan terima kasih kepada Polres Bojonegoro adanya Gerai Vaksin TNI-Polri ini.


“Matur suwun pak Kapolres, sudah berkolaborasi Polres dengan ponpes bersama-sama melawan Covid-19 dan pemberian vaksin dilingkungan ponpes kami. Kami siap mendukung program pemerintah dalam hal penanganan memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ucap Gus Sentot panggilan akrabnya. (ambon).

Minggu, 30 Mei 2021

HADIRI LAUNCHING MA'HAD ALY SUNAN BEJAGUNG, MENTERI DESA MINTA RESTU TUNTASKAN KEMISKINAN





TUBAN, MCE - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Dr. Drs. H Abdul Halim Iskandar M.Pd didampingi Bupati Tuban H Fathul Huda dan Wakil Bupati Tuban H Noor Nahar Hussein M.Si menghadiri acara Launching Ma'had Aly Sunan Bejagung serta Harlah ke 23 Ponpes Sunan Bejagung Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban, Minggu (30/05/2021).

 

Ponpes yang diasuh oleh KH Abdul Matin Djawahir kali ini semakin maju, setelah lolos menjalani berbagai macam survey dari Kemenag Tuban dan Kemenag Jawa Timur.

 

Saat ini, Ponpes sudah resmi ada Ma'had Aly yakni kampusnya pesantren yang mahasiswanya adalah para santri yang fokus mendalami kajian Islam berbasis Kitab Kuning.

 

Dalam sambutannya, Bupati Tuban H Fathul Huda menyampaikan bahwa setiap kali hadir ke ponpes Sunan Bejagung selalu meresmikan dan bukan peletakan batu pertama, termasuk kali ini Launching yang ini menandakan KH Abdul Matin tidak pernah minta bantuan, bahkan bupati tidak pernah menerima proposal dari Ponpes Sunan Bejagung.

 

"Pelajaran yang saya peroleh dari beliau adalah barang siapa yang mau mengabdi kepada Nahdhatul Ulama dengan penuh keikhlasan ternyata hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin," ungkapnya

 

Tidak lupa Bupati Huda juga berharap pembukaan atau Launching Ma'had Aly ini bisa diteruskan oleh dzuriyahnya, karena idealnya pendidikan santri bisa menjadi mahasantri.

 

Sementara itu, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Dr. Drs. H Abdul Halim Iskandar M.Pd menyampaikan dalam rangka launching Ma'had Aly satu tujuan yang ingin kita capai bagaimana betul-betul santri Ma'had Aly bisa membaca kitab.

 

"Dari situ saya ingin lulusan atau peserta perkuliahan adalah santri yang siap dan mampu menjawab perkembangan zaman," harapnya

 

Lebih lanjut, Menteri Desa juga meminta doa dan restu kepada para Kyai agar Amanah yang diemban kepada beliau bisa berupaya semaksimal mungkin menurunkan kemiskinan ditingkat desa bisa dilalui dengan baik.

 

"Kita sudah melakukan pendataan tingkat desa sudah mencapai 60 persen dan kita sudah bisa melihat secara lebih detail lagi tentang kemiskinan didesa yang sebelumnya data tersebut masih tumpang tindah karena setiap sektor punya data sendiri yang berbeda jadi kali ini kita turun sendiri," ujarnya

 

Dalam acara tersebut juga diisi tausiyah oleh KH Agus Ali Mashuri Wakil Ketua PBNU Jatim dan KH Miftahul Akhyar Ketua PBNU Jatim sekaligus Ketua MUI serta penandatanganan prasasti Ma'had Aly secara virtual oleh Prof Dr H Muhammad Ali Ramdani selaku Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama RI atas nama Menteri Agama RI

 

Nampak hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Kabupaten Tuban, Kepala Kantor Kemenag Tuban, Kapolres Tuban, serta tokoh - tokoh Nahdhatul Ulama Tuban. (bp/red).

Berita Terbaru