BOJONEGORO, MCE – Sepertinya warga Bojonegoro harus belajar masak pakai sinar matahari atau kekuatan doa. Pasalnya, seminggu menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H, si "Tabung Melon" alias gas elpiji 3 kg mendadak jadi barang mewah yang harganya lebih labil dibanding perasaan mantan.
Pantauan di lapangan pada Selasa (17/3/2026), kelangkaan ini sukses bikin para pengusaha warung makan di Bojonegoro senam jantung. Bagaimana tidak? Biasanya, di hari normal, para agen masih santai melepas harga di angka Rp18.000 dan toko pengecer di kisaran Rp22.000.
Tapi sekarang? Jangan harap. Memasuki H-7 Lebaran, harga di tingkat agen sudah "lompat indah" ke angka Rp20.000. Di tingkat toko? Makin liar! Warga harus merogoh kocek Rp23.000 hingga Rp25.000 demi bisa menyalakan kompor. Itu pun kalau barangnya ada. Kalau tidak? Ya, silakan pandangi saja kompor dingin itu sambil merenung.
"Sudah mahal, langka juga. Ini mau Lebaran atau mau uji nyali?" keluh salah satu warga yang enggan disebutkan namanya karena takut jatah gasnya makin dipersulit (17/3).
Fenomena "Gas Gaib" ini seolah menjadi tradisi tahunan yang lebih rutin datang daripada THR. Para pemilik warung makan adalah yang paling terdampak. Mereka terjepit di antara harga bahan pokok yang naik dan gas yang menghilang dari peredaran. Mau menaikkan harga menu, takut pelanggan kabur. Mau tetap harga lama, bisa-bisa cuma dapat lelahnya saja.
Netizen pun mulai bersuara sumbang. Banyak yang mempertanyakan, apakah gas elpiji ini ikut-ikutan beli tiket kereta buat mudik sampai-sampai stok di pangkalan ludes tak bersisa? Ataukah ada oknum yang sengaja "menimbun" stok demi panen cuan di tengah penderitaan warga yang ingin masak rendang?
Hingga berita ini diturunkan, warga hanya bisa berharap pemerintah setempat tidak cuma sibuk memantau, tapi juga bergerak cepat sebelum dapur warga benar-benar mogok total tepat di hari kemenangan. (bp).
