Minggu, 05 Juli 2026

​Siswa SMAN Bubulan Sabet Emas di Porkab Bojonegoro 2026, Bungkam Stigma ‘Sekolah Pinggiran Tepi Hutan’




​BOJONEGORO, MCE – Anggapan miring sebagian kalangan yang kerap memandang sebelah mata sekolah di wilayah pinggiran sekadar sebagai "sekolah tepi hutan" sukses dipatahkan. SMAN Bubulan membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk melahirkan mental juara di tingkat kabupaten. Minggu (5/7/2026). 


​Dalam ajang Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) II Bojonegoro 2026, dua atlet pencak silat andalan SMAN Bubulan berhasil menorehkan prestasi gemilang. Rendy sukses membawa pulang Medali EMAS, disusul oleh Jeky yang mengamankan Medali Perak di Cabang Olahraga (Cabor) Pencak Silat.


​Prestasi Nyata, Bukan Sekadar Klaim


​Kepala SMAN Bubulan, Dziyaus Shobah, S.Pd., M.Pd., tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya saat menggelar konferensi pers. Ia menegaskan bahwa kualitas anak didik tidak bisa diukur hanya dari letak geografis gedung sekolah.


​"Alhamdulillah, ini adalah capaian The Best. Meskipun kami berada di sekolah pinggiran dan lokasinya di tepi hutan, siswa-siswi kami mampu membuktikan bahwa mereka memiliki daya saing yang tinggi dan mampu berprestasi di tingkat kabupaten," tegas Dziyaus Shobah dengan nada mantap.


​Menyengat yang Meremehkan


​Keberhasilan Rendy dan Jeky ini seolah menjadi tamparan keras bagi pihak-pihak yang selama ini bias terhadap fasilitas atau gengsi sekolah perkotaan. Prestasi di PORKAB II Bojonegoro 2026 menjadi bukti otentik bahwa gemblengan fisik dan mental dari "anak-anak hutan" justru melahirkan pesilat tangguh yang sulit ditumbangkan.


​Dengan perolehan emas dan perak ini, SMAN Bubulan tidak hanya mengharumkan nama lembaga, tetapi juga mengirimkan pesan jelas ke seluruh penjuru Bojonegoro: Bakat dan mental juara tumbuh subur di mana saja, bahkan di bawah rindangnya pohon hutan Bubulan. (bp). 

​ ​Bupati Langkat Kena OTT: Proyek Dikorupsi, Jabatan Dijual, Sampai Seragam Anak SD Pun Diembat



JAKARTA, MCE -  Kreativitas koruptor di negeri ini memang patut diacungi jempol—dalam artian negatif, tentu saja. Alih-alih memikirkan kesejahteraan rakyat yang memilihnya pada Pilkada 2024 lalu, Bupati Langkat periode 2025–2030, Syah Afandin (SAF), justru sibuk memikirkan bagaimana cara mempertebal dompet pribadinya.


​Bukan kaleng-kaleng, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja membongkar gurita skandal korupsi sang bupati yang berhasil mengeruk uang haram hingga Rp 4,4 miliar. Modusnya? Mulai dari main cantik di proyek infrastruktur, jualan kursi jabatan, sampai tega-teganya menjajah anggaran pengadaan seragam sekolah anak SD.


​Melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) drama tiga wilayah yang berlangsung dramatis, dinasti kecil sang bupati runtuh seketika pada awal Juli 2026.


​Simbiosis Mutualisme: Tim Sukses Dapat Proyek, Bupati Dapat "Gizi"


​Kisah lancung ini bermula dari aroma nepotisme yang pekat. Yaqub Abdhal Al Mu’arif (YQB), seorang pengusaha swasta yang juga merangkap sebagai mantan Tim Sukses SAF saat pilkada, mendadak ketiban durian runtuh. Yaqub sukses memonopoli 80 paket proyek di Dinas Pendidikan senilai Rp 9,5 miliar dan 5 paket proyek di Dinas Permukiman (Disperkim) sebesar Rp 748 juta.


​Tentu saja, tidak ada makan siang gratis dalam kamus politik praktis. Sebagai bentuk "balas budi" atas berkah proyek pengadaan langsung tersebut, sang bupati meminta jatah alias commitment fee yang lumayan mencekik: 10% untuk Dinas Pendidikan dan 17% untuk Disperkim.


Deal! Angka keramat pun muncul. Kedua belah pihak sepakat menyetor Rp 990 juta (pos Disdik) dan Rp 126,8 juta (pos Disperkim). Sepanjang 2025 hingga April 2026, Yaqub mencicil uang tunai sebesar Rp 800 juta kepada bupati. Biar tidak terendus, transaksi ini menggunakan jasa kurir tepercaya: Zulkifli (ZK), yang tidak lain adalah sopir pribadi sang bupati.


​Drama Kafe Medan, Jok Mobil, dan Apesnya Kurir Rp 100 Juta


​Keserakahan memang jarang tahu diri. Memasuki akhir Juni 2026, Syah Afandin kembali menagih sisa utang fee sebesar Rp 300 juta. Karena kondisi keuangan sedang seret, Yaqub hanya sanggup menyediakan Rp 100 juta.


​Sadar bahwa mata dan telinga tim penindak KPK mulai mengendus pergerakan mereka, Syah Afandin mendadak sok lihai bak agen rahasia. Ia memerintahkan orang dekatnya, Syahrial (SYH), untuk melakukan transaksi di sebuah kafe di Kota Medan demi mengelabui petugas.


​Sayang, intelijen KPK jauh lebih cerdas ketimbang strategi gerilya sang bupati. Pelarian mereka berakhir tragis saat mobil Syahrial dicegat tim KPK dalam perjalanan menuju Binjai. Hasilnya? Uang tunai Rp 100 juta ditemukan mengenaskan, disembunyikan di bawah jok kursi penumpang depan.


​"KPK menemukan dugaan aliran dana yang sangat masif... Tersangka SAF memanfaatkan jabatannya untuk memeras komitmen fee dari rekanan swasta demi keuntungan pribadi," ujar Plt Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, dalam jumpa pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026) malam.


​Total ada tujuh orang yang diangkut KPK malam itu, termasuk sang bupati, ajudan, sopir, hingga pejabat dinas.


​Kursi Kepala Sekolah Dijual, Seragam Siswa SD Pun Jadi "Ladang Cuan"


​Jika Anda pikir penderitaan rakyat Langkat berakhir di proyek infrastruktur, Anda salah besar. KPK menemukan fakta yang jauh lebih membuat elus dada: Syah Afandin diduga mengantongi gratifikasi sedikitnya Rp 3,5 miliar dari sektor pelayanan publik.


​Sistem meritokrasi di Pemkab Langkat diacak-acak. Jabatan ASN, posisi Camat, hingga posisi Kepala Sekolah dasar (SD) dan SMP ternyata memiliki label harga. Siapa yang bayar, dia yang duduk.


​"Ketika jabatan kepala sekolah diperdagangkan, yang dipertaruhkan bukan hanya tata kelola pemerintahan, tetapi juga masa depan pendidikan anak-anak," tegas Achmad Taufik Husein dengan nada geram.


​Ironisnya, setelah memperjualbelikan kursi kepala sekolah, anggaran untuk baju seragam anak-anak didik yang masih polos pun tega dikorupsi demi gaya hidup mewah sang bupati.


​Gaya Elit: Koleksi Platinum 55 Kg dan Valas Miliaran Rupiah


​Dari hasil penggeledahan, netizen dijamin bakal melongo melihat isi "celengan" tersembunyi sang bupati. KPK menyita:


​• Uang tunai valuta asing senilai Rp 1,22 miliar (terdiri dari SGD 66.950, RM 11.518, dan pecahan rupiah Rp 244,7 juta).

​• 55 keping logam platinum dengan berat fantastis mencapai 55 kilogram yang ditemukan di dalam mobil operasional bupati (kini sedang diuji keasliannya).

​• Pembekuan dua rekening bank atas nama Syah Afandin dengan saldo jumbo sebesar Rp 2,27 miliar.


​Akhir Perjalanan Sang Bupati


​Kini, panggung sandiwara Syah Afandin dan Yaqub Abdhal Al Mu’arif resmi ditutup oleh KPK setelah keduanya ditetapkan sebagai tersangka resmi.


​Untuk mencegah mereka "bernyanyi" atau menghilangkan barang bukti di luar, Syah Afandin langsung dijebloskan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK. Sementara itu, sang penyuap, Yaqub, harus rela mendekam di Rutan Polresta Medan selama 20 hari ke depan.


​Kursi empuk bupati berganti rompi oranye, dan ruangan ber-AC kini berganti jeruji besi. Sebuah akhir yang dinilai netizen sebagai instant karma paling memuaskan minggu ini. (bp). 

Sabtu, 04 Juli 2026

Diikuti Ratusan Atlet, PORKAB II Bojonegoro Cabor Floorball Sukses Jaring Bibit Emas Menuju Porprov 2027




​BOJONEGORO, MCE – Atmosfer membara menyelimuti Gelanggang Olahraga (GOR) Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro. Selama dua hari penuh, pada tanggal 2 dan 4 Juli 2026, ratusan pasang mata menjadi saksi lahirnya talenta-talenta emas dalam ajang bergengsi Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) II Bojonegoro Tahun 2026 untuk Cabang Olahraga (Cabor) Floorball.


​Kompetisi yang berlangsung sengit dan penuh tensi tinggi ini memperebutkan kasta tertinggi kedigdayaan olahraga floorball di bumi Angling Dharma. Tercatat, sebanyak 11 kecamatan mengirimkan tim terbaiknya untuk bertarung di kategori Putra, sementara 10 kecamatan bersaing ketat di kategori Putri. Total ada 165 atlet papan atas daerah didampingi oleh 18 pelatih dan official yang mengerahkan seluruh taktik strategis demi mengharumkan nama wilayah masing-masing.


​Dominasi Kalitidu dan Kapas yang Menggetarkan Lapangan


​Melalui laga yang menguras fisik dan air mata, pertempuran di kategori Putra akhirnya melahirkan jawara baru. Tim Floorball Kecamatan Kalitidu tampil perkasa dan sukses mengunci gelar Juara 1 (Champions) setelah menumbangkan perlawanan sengit dari Kecamatan Dander yang harus puas di posisi Runner-Up (Juara 2). Sementara itu, tempat ketiga (Third Place) berhasil diamankan oleh skuad tangguh dari Kecamatan Ngasem setelah melalui perjuangan melelahkan di partai perebutan perunggu.


​Di sisi lain, ketegangan yang tidak kalah hebat tersaji di sektor Putri. Kecamatan Kapas membuktikan mental mentalitas juara mereka dengan merebut podium tertinggi sebagai Juara 1. Langkah impresif Kapas disusul oleh Kecamatan Balen yang membawa pulang predikat Runner-Up (Juara 2), dan posisi ketiga diraih oleh Kecamatan Bubulan yang tampil spartan hingga peluit akhir pertandingan dibunyikan.


​Misi Besar Menuju Kejurprov dan Porprov 2027


​Keberhasilan pelaksanaan PORKAB II Bojonegoro Cabor Floorball ini bukan sekadar ajang seremonial pembagian medali. Di balik gemuruh sorak-sorai penonton, ada misi besar jangka panjang yang tengah dipetakan oleh pengurus cabang olahraga untuk membawa nama Bojonegoro menembus level regional hingga nasional.


​Ketua Technical Delegate PORKAB II Tahun 2026 Cabor Floorball, M. Irfan Bagus, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kompetisi ini dirancang dengan standar tinggi guna menyaring atlet-atlet yang memiliki determinasi, teknik, dan mental baja.


​"Pelaksanaan PORKAB ini sudah kita laksanakan semaksimal mungkin. Ini bukan akhir, melainkan langkah awal. Target utama kita tentunya adalah untuk menjaring bibit-bibit atlet floorball terbaik di Kabupaten Bojonegoro sebagai persiapan matang menuju Kejurprov dan Porprov 2027 mendatang," tegas M. Irfan Bagus saat memberikan sambutan penutupan di hadapan para atlet dan official.


​Ajang PORKAB II 2026 ini melahirkan sinyal kuat bahwa pembinaan olahraga floorball di tingkat kecamatan di Bojonegoro mulai merata dan kompetitif. Netizen dan pencinta olahraga daerah kini menaruh harapan besar pada pundak para juara baru ini untuk mengharumkan nama Bojonegoro pada perhelatan akbar pekan olahraga provinsi di masa depan. (bp). 

​Mencekam di Gang Yacub Campurejo: Usaha Reparasi Kursi Ludes Terbakar Tengah Malam, 5 Damkar Dikerahkan





​BOJONEGORO, MCE – Suasana sunyi tengah malam di Dukuh Mlaten, Desa Campurejo, mendadak berubah mencekam. Sebuah insiden kebakaran hebat melanda rumah sekaligus tempat usaha reparasi kursi milik Bapak Pri dan Ibu Marfuah yang terletak di Gang Yacub, RT 26 RW 01, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota (tepat di dekat RS Ibnu Sina), pada Minggu (5/7) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.


​Kobaran api yang membesar dengan cepat tidak hanya menghanguskan bangunan utama, melainkan juga merembet dan menjilat dinding rumah yang berada tepat di sebelahnya.


​Menurut informasi awal yang dihimpun di lapangan, petaka ini diduga kuat akibat korsleting listrik. Kendati demikian, pihak kepolisian dan otoritas terkait menegaskan bahwa penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan mendalam.


​Merespons laporan darurat tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro langsung bergerak cepat dengan menerjunkan sedikitnya 5 unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi kejadian. Hingga berita ini diturunkan, petugas pemadam kebakaran bersama warga sekitar masih berjibaku di lapangan untuk menjinakkan si jago merah dan melakukan proses pembasahan agar api tidak kian meluas.


​Nasib Pemilik Rumah

Beruntung, berdasarkan kesaksian sejumlah tetangga sekitar, rumah dalam keadaan kosong saat api mulai mengamuk. Pemilik rumah, Pak Pri dan Bu Marfuah, biasanya tidak menginap di tempat usaha tersebut melainkan tidur di kediaman orang tua mereka yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).


​Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat peristiwa ini. Sementara itu, total kerugian materiil akibat ludesnya tempat usaha reparasi kursi dan dampak kerusakan pada rumah tetangga masih belum bisa ditaksir, mengingat fokus utama petugas masih pada pemadaman total.


​Pihak berwajib mengimbau warga sekitar untuk tetap waspada dan memberikan ruang bagi armada pemadam kebakaran yang sedang bertugas. (bp). 

reporter: mblung. 




​Drama 'Amplop Ketinggalan' Menhut Raja Juli: KPK Ingatkan Balikin Uang Tak Hapus Dosa Pidana



JAKARTA, MCE - Modus klasik "barang tertinggal" dalam pusaran birokrasi kembali digoyang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga antirasuah tersebut dengan tegas mengingatkan bahwa aksi heroik mengembalikan amplop misterius tidak serta-merta mencuci bersih dugaan unsur pidana yang ada.


​Sikap kaku KPK ini mencuat sebagai respons atas pengakuan blak-blakan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Raja Juli mengklaim telah memulangkan sebuah amplop misterius yang "tercecer" pasca-pertemuannya dengan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Suhardiman Amby.


​Bukan Penghapus Dosa, Cuma Catatan Kaki Penyidik


​Plt. Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, menegaskan bahwa hukum tidak berjalan dengan prinsip "maaf, sudah dikembalikan". Menurutnya, aksi pengembalian barang atau uang yang diduga berkaitan dengan rasuah hanyalah seonggok fakta di atas kertas penyidikan, bukan tombol reset hukum.


​"Pengembalian tidak menghapus pidana. Tetapi sejauh mana pengembalian itu menjadi fakta yang memang tadi dikonstruksi awalnya bahwa bupati mengurus rekomendasi ke kementerian, itu nanti akan didalami oleh tim penyidik. Ditunggu saja, sabar. Ini kan baru awal-awal penyidikannya," ujar Taufik ketus kepada wartawan, Sabtu (4/7/2026).


​Penyidik kini tengah membongkar motif di balik "sogokan yang gagal" tersebut. KPK mengendus ada aroma amis di balik amplop itu, yang diduga kuat sebagai pelicin demi memuluskan rekomendasi sakti di Kementerian Kehutanan.


​Kronologi 'Aksi Refleks' Sang Menteri


​Berdasarkan pengakuan Raja Juli, drama ini bermula pada 2 Juni 2026 di ruang kerjanya. Usai bertamu, Bupati Kuansing dilaporkan meninggalkan sebuah amplop. Raja Juli berdalih tidak tahu-menahu apa isi di dalam amplop tebal tersebut dan langsung memerintahkan ajudannya untuk mengembalikannya ke pihak bupati.


​Namun, bagi KPK, cerita "nemu amplop" ini tidak selesai sampai di meja ajudan. Beberapa poin krusial yang kini dibidik penyidik antara lain:


• ​Aroma Transaksional: Menelusuri korelasi antara amplop tersebut dengan izin-izin kehutanan yang sedang diajukan Pemkab Kuansing.

​• Alat Bukti Digital & Saksi: Memeriksa CCTV, manifes tamu, hingga isi percakapan sebelum pertemuan terjadi.

​• Konstruksi Perkara: Menentukan apakah ada unsur kedekatan atau kesepakatan (meeting of minds) yang mendahului "ketinggalannya" amplop tersebut.


​Netizen Menolak Lupa, KPK Janji Profesional


​Publik kini menanti kelanjutan kasus ini. Apakah pengembalian amplop ini murni bentuk integritas, atau sekadar langkah panik karena menyadari radar KPK sedang mengarah ke mereka?


​KPK memastikan tidak akan terkecoh oleh narasi "pengembalian sukarela" dan berjanji mengusut kasus ini secara profesional hingga ke akar-akarnya. Proses hukum baru saja dimulai, dan 'nyanyian' dari para saksi berikutnya diprediksi akan membuat panggung Kementerian Kehutanan makin memanas. (bp). 

​Geger! Wanita Muda Ditemukan Telentang Bersimbah Darah Tanpa Sehelai Benang pun, Netizen Desak Polisi Usut Tuntas




LUMAJANG, MCE – Jagat maya dan warga Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang mendadak gempar. Seorang gadis muda berinisial MTA (22) ditemukan tewas mengenaskan di dalam kamarnya sendiri. Kondisinya sungguh memprihatinkan: telentang, bersimbah darah, dan tanpa mengenakan busana sama sekali.


​Tragedi berdarah ini menyisakan tanda tanya besar, terutama dari kronologi awal penemuan jasad yang dinilai publik cukup "unyu" sekaligus mencurigakan.


​Bagaimana tidak? Penemuan jasad korban justru bermula dari teka-teki sebuah panggilan telepon. Kekasih korban tiba-tiba menghubungi tetangga MTA, meminta tolong untuk mengecek kondisi sang pacar. Alasannya klasik: ponsel korban tidak bisa dihubungi sejak pagi hari.


​Mendapat firasat kurang enak, saksi pun bergegas menuju rumah korban. Bukannya mendapati MTA sedang tertidur lelap, saksi justru disuguhi pemandangan mengerikan yang bikin bulu kuduk berdiri. MTA sudah tak bernyawa dengan kondisi yang sangat janggal di atas ranjangnya. Sontak, teriakan histeris saksi memecah keheningan desa sebelum akhirnya kasus ini dilaporkan ke polisi.


​"Tetangganya yang menemukan. Katanya dapat telepon dari pacar korban untuk memeriksa kondisinya karena ditelepon tidak bisa. Saat dicek ternyata sudah meninggal, posisinya tanpa busana di kamarnya," ungkap Diana, salah satu anggota keluarga korban, dengan nada terpukul, Jumat (3/7/2026).


​Aparat kepolisian dari Polres Lumajang yang bergerak cepat langsung menerjunkan tim Inafis ke lokasi untuk mengobrak-abrik TKP demi mencari petunjuk. Pihak kepolisian pun tidak menampik bahwa kondisi korban saat pertama kali ditemukan memang jauh dari kata wajar.


​"Berdasarkan olah TKP memang benar korban tidak memakai pakaian dengan posisi terlentang di kamar. Ada kekerasan seksual atau yang lain, kami masih menunggu hasil autopsi," tegas Kasi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto.


​Saat ini, jasad MTA telah dievakuasi ke kamar jenazah RSUD dr. Haryoto Lumajang untuk dibongkar penyebab pasti kematiannya melalui proses autopsi forensik. Kasus dugaan pembunuhan sadis ini kini tengah digarap intensif oleh Satreskrim Polres Lumajang. Kita tunggu saja, siapa "monster" di balik layar yang tega menghabisi nyawa MTA dengan cara sekeji ini. (bp). 

Jumat, 03 Juli 2026

​Tembus 682 Peserta, PAMNAS Bonsai 2026 di Alun-Alun Lamongan Jadi Magnet Pecinta Karya Seni Tanaman Nasional




LAMONGAN, MCE – Alun-Alun Lamongan disulap menjadi galeri seni raksasa seiring dibukanya Pameran dan Kontes Bonsai Nasional (PAMNAS) 2026, Selasa (30/6). Diikuti oleh ratusan kontestan dari berbagai penjuru daerah, perhelatan akbar ini menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian perayaan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457.


​Acara yang berlangsung hingga 4 Juli 2026 tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Kehadiran komunitas dan pecinta bonsai, khususnya dari wilayah Jawa Timur, sukses menegaskan posisi Lamongan sebagai tuan rumah kompetisi bergengsi skala nasional.


​Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Pak Yes tersebut menyampaikan apresiasi mendalam atas tingginya partisipasi peserta. Menurutnya, ledakan antusiasme ini menjadi bukti sahih bahwa industri dan seni bonsai tanah air terus mengalami tren pertumbuhan yang positif.


​"Terima kasih atas dukungan seluruh rekan-rekan PPBI (Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia), khususnya cabang-cabang di Jawa Timur yang hampir tumplek-blek hadir di Lamongan. Antusiasme ini menjadi energi besar bagi kami untuk terus menghadirkan ruang yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga efektif menggerakkan roda perekonomian daerah," ujar Pak Yes.


​Kompetisi Sengit di Empat Kelas Bergengsi


​Tercatat, sebanyak 682 pohon bonsai terbaik ambil bagian dalam kompetisi tahun ini. Persaingan ketat tersaji di berbagai kategori, mulai dari kelas pemula hingga kelas para master.


​Secara rinci, PAMNAS 2026 menampung 20 pohon di Kelas Utama, 41 pohon di Kelas Madya, 206 pohon di Kelas Pratama, dan didominasi oleh 415 pohon di Kelas Bahan. Tingginya angka partisipasi ini merefleksikan kepercayaan besar komunitas bonsai nasional terhadap kualitas penjurian dan fasilitas yang disediakan Pemerintah Kabupaten Lamongan.


​Menilik Bonsai dari Kacamata Ekonomi Kreatif


​Lebih lanjut, Pak Yes menekankan bahwa eksistensi tanaman kerdil ini telah bergeser dari sekadar hobi komunal menjadi sektor ekonomi kreatif yang sangat menjanjikan. Investasi waktu dan perawatan pada sebatang bonsai berbanding lurus dengan nilai ekonominya yang terus meroket.


​"Bonsai memiliki rantai ekonomi yang panjang dan inklusif. Mulai dari pembibit, pencari bahan, perajin pot, hingga seniman pembentuk (trainer) bonsai, semuanya mendapatkan dampak ekonomi langsung. Inilah wujud nyata ekonomi kerakyatan yang harus terus kita dukung dan fasilitasi," imbuhnya.


​Melalui momentum PAMNAS 2026 ini, Pemkab Lamongan berharap ajang ini tidak sekadar menjadi panggung kompetisi estetika, melainkan mampu memperluas jejaring bisnis antardaerah sekaligus memberikan stimulus signifikan bagi perputaran ekonomi lokal. (s.genk). 

Berita Terbaru