Drama Gugat Cerai "Setingan"? Ketua Komnas Pendidikan Dibikin Geram, Kuasa Hukum Diduga 'Asal Jeplak' Bikin Gugatan Palsu
hukum Kabupaten Tuban![]() |
TUBAN, MCE – Jagat maya dan koridor hukum di Tuban mendadak gempar. Bukan sekadar kabar perceraian biasa, namun drama hukum yang menyeret nama tokoh publik sekaligus Ketua Komnas Pendidikan, Bangun Purnomo, kini memasuki babak baru yang penuh aroma skandal. Sidang gugatan cerai nomor 670 yang dijadwalkan pada Rabu (15/4) lalu, mendadak berubah menjadi panggung pembuktian sebuah dugaan "malpraktik hukum" yang memalukan.
Bagaimana tidak? Masmudah, sang penggugat, justru melempar bom pernyataan yang membuat wajah kuasa hukumnya, Nugroho Edi Kiswanto, SH., merah padam. Di hadapan media dan didampingi langsung oleh sang suami (tergugat), Masmudah mengaku bahwa isi gugatan yang dilayangkan atas namanya adalah isapan jempol belaka.
Kuasa Hukum Main "Latto-Latto" dengan Hukum?
"Saya tidak pernah memberi keterangan kepada kuasa hukum seperti yang tertera pada gugatan cerai itu," tegas Masmudah dengan nada getir.
Pernyataan ini seolah menampar integritas profesionalisme advokat. Netizen pun dibuat bertanya-tanya: apakah gugatan cerai sekarang bisa "dikarang bebas" layaknya novel fiksi? Jika klien sendiri mengaku tidak pernah memberikan keterangan tersebut, lantas dari mana sang kuasa hukum mendapatkan materi gugatan yang pedas itu? Dugaan pencemaran nama baik kini bukan sekadar gertakan, tapi sudah di depan mata.
Keanehan Sidang: Dari Antrean "VVIP" Hingga Prosedur Cacat
Keanehan tidak berhenti di substansi gugatan. Prosedur persidangan hari itu pun menyisakan bau anyir. Bangun Purnomo, yang datang jauh-jauh dari Jombang bersama rombongan keluarga besar demi melindungi istrinya yang hendak mencabut gugatan, mengaku heran dengan permainan antrean di pengadilan.
Bayangkan, mereka terlambat hanya 15 menit karena penggugat masih harus membantu di warung, namun sidang seolah-olah ditutup secepat kilat. Lucunya, di sidang sebelumnya saat mereka datang pagi buta, antrean justru ditaruh di paling buncit. Kali ini? Tiba-tiba jadi nomor satu. Ada apa dengan manajemen antrean ini? Apakah ada "tangan gaib" yang sengaja ingin mempercepat proses tanpa kehadiran para pihak agar drama ini terus bergulir?
Jiwa Ksatria vs Tuduhan Palsu: Bangun Purnomo Tak Tinggal Diam
Meski sedang ditusuk dari belakang dengan gugatan cerai, Bangun Purnomo menunjukkan kelasnya sebagai pelindung masyarakat. Alih-alih membalas dengan amarah, ia tetap profesional membentengi istrinya dari jeratan hukum yang salah arah. Namun, kesabaran manusia ada batasnya.
"Ini tuduhan palsu dan sudah masuk ranah pencemaran nama baik. Kalau saya tidak setuju pencabutan gugatan itu, bagaimana? Hukum harus ditegakkan agar hal serupa tidak terjadi pada masyarakat Tuban lainnya!" tegas Bangun dengan nada menyengat.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para praktisi hukum: jangan sekali-kali bermain api dengan memalsukan narasi gugatan demi memenangkan perkara atau sekadar memicu perpecahan. Jika tokoh sekaliber Ketua Komnas Pendidikan saja bisa "dikerjain" dengan gugatan fiktif, bagaimana dengan nasib rakyat kecil di Tuban yang buta hukum?
Netizen kini menunggu: Apakah sang kuasa hukum akan bertanggung jawab atas narasi "halu" dalam gugatan tersebut, atau justru ini akan menjadi babak baru di meja hijau terkait laporan pencemaran nama baik? Satu yang pasti, drama di Tuban ini jauh lebih pedas dari sambal warung manapun! (bp).






