Harmonisasi Iman dan Budaya: M. Luthfillah Kupas Tuntas Relevansi Tradisi dalam Bingkai Syariat di Masjid Taqwa Paji
kabupaten lamongan
LAMONGAN, MCE – Masjid Taqwa Desa Paji, Kecamatan Pucuk, menjadi saksi bisu pesan mendalam tentang moderasi beragama pada Jumat (08/05/2026). Hadir sebagai Imam dan Khotib, M. Luthfillah, M.Ag., yang merupakan Ketua Komisi Nasional Pendidikan (Komnasdik) Kabupaten Lamongan sekaligus Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Lamongan, membawakan khutbah bertajuk "Antara Tradisi dan Dalil Al-Qur'an serta Hadits."
Dalam paparannya, M. Luthfillah menekankan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin, yang kehadirannya tidak untuk memberangus budaya lokal, melainkan memberikan ruang harmonisasi selama tidak bertentangan dengan prinsip ketauhidan.
Islam yang Adaptif, Bukan Frontal
Mengutip pemikiran Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah, Khotib menjelaskan bahwa kondisi sosial dan adat istiadat masyarakat bersifat dinamis. Islam hadir dengan metode islah (perbaikan) yang santun.
"Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Artinya, nilai-nilai baik yang sudah ada di masyarakat sebelum Islam datang, justru diakomodir dan dikuatkan," ujar M. Luthfillah di hadapan ratusan jamaah.
Beliau mencontohkan bagaimana tradisi masyarakat Quraisy dalam menjamu peziarah Ka’bah tetap dipertahankan oleh Nabi Muhammad SAW dan dikategorikan sebagai amal shalih (sedekah), membuktikan bahwa syariat sangat menghargai kearifan lokal yang positif.
Dakwah Bil Hikmah ala Walisongo
Lebih lanjut, tokoh pendidikan Lamongan ini mengajak jamaah berkaca pada sejarah dakwah Walisongo di Nusantara. Penggunaan media gamelan dan seni wayang sebagai sarana dakwah merupakan bukti nyata dakwah bil hikmah—mengisi tradisi dengan warna keislaman tanpa harus melepas atribut budaya secara frontal.
"Kaidah fikih al-adatu muhakkamah menunjukkan bahwa adat kebiasaan dapat dijadikan rujukan hukum selama sejalan dengan dalil naqli. Di Indonesia, harmonisasi inilah yang menjaga kita dari konflik dan perpecahan," tambahnya.
Pesan untuk Masa Depan
Menutup khutbahnya, M. Luthfillah mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman tradisi agar umat dapat beribadah dengan tenang tanpa disibukkan oleh pertengkaran yang tidak produktif.
Kegiatan shalat Jumat berlangsung dengan khidmat, mempertegas peran tokoh agama dan pendidik dalam merawat toleransi serta menyelaraskan antara tuntunan agama dan realitas kehidupan sehari-hari di Kabupaten Lamongan.
Penulis: [bp/MCE]
Editor: [bp]
Lokasi: Paji, Pucuk, Lamongan.






