Gurita Bisnis Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah: Dari Kawan Tongkrongan, Puluhan Perusahaan Cangkang, Hingga Kongsi dengan 'Sultan' Batu Bara
jakartaJAKARTA, MCE - Kata orang, circle menentukan nasib. Bagi mantan Jampidus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, circle zaman kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jambi ternyata tak cuma menghasilkan kenangan manis masa muda, tapi juga gurita bisnis bernilai fantastis.
Hasil penyidikan kepolisian bersama temuan fakta lapangan mengungkap skenario megah: puluhan perusahaan yang diduga menjadi tameng dan mesin pencuci uang, melibatkan kerabat dekat hingga "Sultan" batu bara asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Dari Tongkrongan UNJA Menuju Imperium Perusahaan
Siapa sangka, dua nama yang kini melenggang dalam rompi tahanan—Don Ritto dan Nurman Herin—bukanlah pengusaha kawakan berdarah dingin sejak lahir. Menurut kesaksian pengusaha Ferry Yanto Hongkiriwang kepada penyidik, keduanya adalah kawan satu kampus sekaligus teman satu tongkrongan Febrie saat menimba ilmu di Unja.
Namun, beda tongkrongan, beda hasil. Dari sekadar ngopi bareng, Don Ritto dan Nurman Herin bertransformasi menjadi dua "tangan kanan" yang dipercaya mengendalikan belasan hingga puluhan perusahaan atas arahan Febrie. Keduanya dilaporkan rajin setor muka dan berkirim laporan rutin terkait operasional jejaring bisnis tersebut.
Data kepolisian mencatat ada sekitar 20 perusahaan yang terafiliasi dengan nama Don Ritto dan Nurman Herin. Namun, jika menelisik dokumen administrasi hukum Kemenkumham, angkanya jauh lebih mencengangkan: Don Ritto tersambung ke 31 perusahaan, sementara Nurman mengantongi 19 perusahaan. Sungguh koleksi perusahaan yang bahkan bikin pengusaha startup gigit jari.
Dinasti Keluarga dan Kongsi Kelas Berat
Bukan bisnis keluarga namanya kalau tak melibatkan sang buah hati. Dua putra Febrie, yakni Aga Adrian Haitara dan Kheysan Farrandie, tercatat pernah "mampir" dan terhubung dengan Don Ritto serta Nurman Herin dalam bendera PT Hutama Indo Tara.
Skenario ini makin dramatis ketika jejak saham Don Ritto membentang hingga berpapasan dengan entitas bisnis milik pengusaha batu bara kondang Kalsel, Haji Isam. Pertemuan antara jaringan pejabat penegak hukum dan penguasa tambang ini mendongkrak dugaan kuat kepolisian: perusahaan-perusahaan cangkang ini bukan sekadar mengejar profit dagang, melainkan disinyalir kuat menjadi wahana laundromat alias tempat pencucian uang.
Kini, tumpukan uang tunai miliaran rupiah hasil penggeledahan di Sentul dan Cipete telah bertengger manis di atas meja konferensi pers kepolisian sebagai barang bukti. Sebuah pemandangan kontras bagi publik yang selama ini membayangkan penegakan hukum berjalan lurus tanpa lekuk bisnis terselubung. (bp).
#KasusKorupsi #TPPU #Jampidsus #HukumIndonesia #BeritaViral






