Sabtu, 17 Oktober 2026

​Inovasi AI Lestarikan Budaya! Guru SMAN 1 Kenduruan Sukses Sabet Juara 1 Anugerah Guru PRIMA Tuban 2026



TUBAN, MCE - Prestasi membanggakan kembali menorehkan tinta emas bagi dunia pendidikan Kabupaten Tuban. Fitri Nurwijayanti, S.Pd., Gr., guru Bahasa Jawa SMAN 1 Kenduruan, sukses keluar sebagai Juara 1 Anugerah Guru PRIMA Kabupaten Tuban Tahun 2026. Ia memukau dewan juri melalui karya inovatifnya yang memadukan teknologi modern dengan pelestarian budaya lokal bertajuk “MPI JAWARA AI” (Media Pembelajaran Interaktif Berbasis AI untuk Meningkatkan Kemampuan Unggah-Ungguh Basa Jawa). Minggu (18/10/2026). 


​Di tengah gempuran era digital, inovasi ini hadir sebagai solusi kreatif untuk membantu peserta didik memahami dan mempraktikkan unggah-ungguh basa Jawa (tata krama berbahasa) secara kontekstual sesuai lawan tutur. Melalui platform pintar ini, para siswa diajak aktif menganalisis situasi komunikasi, memilih ragam bahasa yang tepat, hingga mendapatkan umpan balik instan guna mengasah keterampilan berbahasa yang santun.


​Efektivitas media ini juga teruji nyata di dalam kelas. Berdasarkan evaluasi interaktif menggunakan Wordwall terhadap 32 peserta didik, sebanyak 28 siswa (87,5%) berhasil melampaui kriteria ketuntasan belajar. Sementara itu, 4 siswa lainnya (12,5%) mendapatkan pendampingan khusus melalui program remedial.


​Kepala SMAN 1 Kenduruan, Nur Ida Hasanatin, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan haru atas pencapaian luar biasa yang diraih oleh tenaga pendidik di satuan pendidikan yang dipimpinnya.


​"Saya merasa sangat bangga dan terharu melihat salah satu guru terbaik kami mampu berdiri di panggung Anugerah Guru Prima. Prestasi ini adalah bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras tanpa lelah yang ditunjukkan setiap hari di dalam ruang kelas," ungkap Nur Ida.


​Ia juga menambahkan bahwa pencapaian ini tidak hanya mengangkat marwah institusi, tetapi juga membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah halangan untuk melahirkan karya berdampak luas.


​"Selama proses persiapan hingga kompetisi, saya menyaksikan sendiri bagaimana guru kami tidak hanya mengajar, tetapi juga berinovasi menciptakan media belajar yang adaptif terhadap zaman serta menjadi motivator hebat bagi siswa dan rekan sejawat," tambahnya.


​Keberhasilan gemilang ini tidak hanya mengharumkan nama besar SMAN 1 Kenduruan, melainkan juga membawa kebanggaan bagi keluarga besar PGRI Cabang Kenduruan. Sebagai langkah selanjutnya, Fitri Nurwijayanti dipastikan akan melenggang untuk mewakili Kabupaten Tuban dalam ajang Anugerah Guru PRIMA (AGP) tingkat Provinsi Jawa Timur dari kategori Guru SMA/SMK/MA.


​Capaian inspiratif ini menjadi bukti nyata komitmen pendidik dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, tanpa melunturkan akar budaya bangsa. Selamat dan sukses atas prestasi yang diraih—membawa nama Tuban bersinar di kancah yang lebih tinggi. 


​SMAN 1 Kenduruan — Berprestasi, Berinovasi, dan Menginspirasi. (bp). 

​Dua Kali Mangkir Alasan Dinas, KPK Ancam Jemput Paksa Menteri Nusron Wahid



JAKARTA, MCE - Ada bau-bau mangkir yang mulai menyengat di hidung penyidik Gedung Merah Putih. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya sudah mulai habis kesabaran menghadapi sikap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid. Minggu (18/10/2026). 


​Alih-alih menunjukkan teladan sebagai pejabat negara yang taat hukum, Pak Menteri tercatat sudah dua kali berturut-turut "ghosting" alias mangkir dari panggilan penyidik KPK.


​Padahal, pemanggilan ini bukan sekadar ngobrol santai, melainkan untuk diperiksa sebagai saksi penting dalam kasus rasuah kakap: dugaan korupsi dan suap pengurusan sertifikat tanah terkait Hak Guna Bangunan (HGB) Summarecon Bogor.


​Alasan yang disodorkan sang menteri pun klasik: sibuk kegiatan dinas. Wah, dinasnya penting banget atau sengaja cari-cari alasan biar lolos dari sorot lampu terang penyidik, nih?


​KPK sendiri tidak tinggal diam. Lembaga antirasuah itu kini tengah menganalisis surat ketidakhadiran yang dikirimkan kubu Nusron. Jika analisanya berbunyi "alasan tidak wajar", bukan isapan jempol belaka jika lembaga rasuah ini langsung menerbitkan surat perintah jemput paksa. Sebuah tontonan penegakan hukum yang pastinya ditunggu-tunggu netizen +62 di layar kaca.


​Sementara itu, pihak kementerian mencoba meredam suasana. Wakil Menteri ATR/BPN, Ossy Dermawan, dengan nada kalem menyatakan pihaknya menghormati proses hukum. Senada dengan bawahannya, Nusron sebelumnya juga sempat koar-koar mengaku akan kooperatif.


​Namun, omongan manis soal "menghormati hukum" mendadak terasa hambar ketika dua panggilan pertama justru dilewatkan begitu saja. Publik kini menagih pembuktian: apakah sang menteri punya nyali untuk datang sendiri ke KPK, atau harus menunggu dijemput dengan pengawalan khusus berseragam rompi oranye?


​Bagaimana menurut Anda? Apakah Menteri Nusron bakal memenuhi panggilan ketiga atau justru semakin lihai mencari alasan dinas? Tulis pendapat pedas Anda di kolom komentar. (bp). 

Kamis, 15 Oktober 2026

​Dana Karhutla Diduga Dirampok Oknum, Rieke Diah Pitaloka Sebut Korupsi BNPB Sebagai Pelanggaran HAM Nyata


​
​JAKARTA, MCE - Ada batas di mana kesabaran publik bisa habis, dan tampaknya batas itu sudah terlewati di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa lewat Dana Siap Pakai (DSP) kebencanaan mendadak bikin darah mendidih.


​Bagaimana tidak? Di saat rakyat kecil harus megap-megap menghirup asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), anggaran yang seharusnya jadi penyelamat justru diduga digarong oleh oknum-oknum tak berhati nurani.

​Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, langsung bereaksi keras dan melontarkan kritik pedas tanpa ampun. Dengan nada tajam, politisi PDI-P ini menyebut tindakan busuk tersebut bukan sekadar rasuah biasa, melainkan bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang amat sistemik.


​"Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk memadamkan api, menyelamatkan ekosistem, dan melindungi kesehatan warga dari kepungan asap beracun, justru diduga dirampok demi kepentingan segelintir oknum!" seru Rieke dengan nada geram, Kamis (15/10/2026).


​Bagi Rieke, merampok dana bencana di tengah penderitaan rakyat bukan cuma soal angka kerugian negara di atas kertas, tapi soal merampas hak hidup dan hak dasar warga atas udara serta lingkungan yang sehat.


​Desakan Hukum: Hukuman Mati untuk "Predator" Bencana


​Tidak hanya melontarkan kecaman pedas, Rieke langsung mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tidak main-main dan bertindak agresif menghadapi para pelaku.


​Ia menuntut penegak hukum menjatuhkan sanksi terberat yang bikin jera: hukuman mati. Tuntutan ini merujuk pada Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), yang memang mengatur ancaman hukuman mati dalam kondisi tertentu seperti bencana alam.


​• Sikat Sampai Akar: Rieke juga meminta KPK memperluas penyidikan dengan membidik Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP serta Pasal 20 UU Tipikor. Tujuannya jelas: menyeret semua aktor intelektual hingga korporasi vendor yang ikut menikmati pesta pora di atas penderitaan korban bencana.


​• Gandeng PPATK: Aliran dana haram ini diyakini tidak mengalir ke satu tangan saja. Karena itu, KPK didesak merangkul Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk melacak ke mana saja "aliran uang panas" tersebut bermuara, tanpa pandang bulu.


​Evaluasi Total: Jangan Sampai Penanganan Bencana Ikut Lumpuh


​Kasus memalukan ini dinilai telah menelanjangi celah fatal dalam tata kelola anggaran darurat di negeri ini. Rieke mendesak adanya audit kelembagaan secara menyeluruh di tubuh BNPB agar skandal korupsi ini tidak sampai melumpuhkan efektivitas negara dalam menangani karhutla yang terus mengancam.


​Selain bersih-bersih internal, reformasi regulasi pengadaan barang dan jasa khusus kebencanaan dipandang sudah darurat untuk dilakukan. Publik kini menagih ketegasan aparat penegak hukum: Apakah para "predator bencana" ini akan berakhir di balik jeruji besi dengan hukuman maksimal, atau kembali lolos lewat celah hukum yang biasa dimainkan. 


​Bagaimana pendapat Anda, pembaca? Apakah hukuman mati pantas dijatuhkan bagi mereka yang memperjualbelikan nyawa rakyat di tengah kepungan asap bencana? Tulis di kolom komentar. (bp). 

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Terciduk OTT KPK



​JAKARTA, MCE - Baru juga menjabat dan hangat-hangatnya memimpin kursi kekuasaan, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo sudah bikin ulah yang bikin jidat berkerut dan jempol netizen gatal. Alih-alih sibuk mengurus rakyat, sang bupati justru sukses mendarat manis di ruang pemeriksaan KPK setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT), Kamis (15/10/2026).


​Nggak tanggung-tanggung, dari tangan sang penguasa daerah ini, tim anti-rasuah mengamankan bungkusan "rezeki nomplok" berupa uang tunai segar yang kalau dihitung-hitung sementara nilainya menyentuh angka Rp 1 miliar!


​"Tim juga mengamankan barang bukti dalam bentuk uang tunai. Masih proses hitung. Hitungan awal sementara sekitar Rp 1 miliar," kata Jubir KPK Budi Prasetyo, pasang badan membeberkan fakta bikin sesak napas.


​Operasi Senyap, Jaring Ikan Kakap


​Nama Hamenang mendadak jadi pesohor paling dicari setelah Ketua KPK Setyo Budiyanto mengonfirmasi bahwa operasi senyap ini sukses menciduk sang bupati, sejumlah pejabat aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Klaten, hingga kawanan pihak swasta yang diduga jadi aktor di balik layar.


​Sayangnya, pihak KPK masih jual mahal dan memilih bungkam soal detail kasus maupun siapa saja pesohor lain yang ikut "diangkut" ke gedung merah putih.


​Status: Masih sebatas terperiksa.


​Waktu Jemput Paksa: KPK punya waktu 1x24 jam buat membongkar dosa-dosa apa saja yang bikin sang bupati kalap mata sampai kantongi duit miliaran rupiah.


​Sindir Alus Buat Netizen: Wajar Ismoyo atau Wajar Diciduk?


​Namanya emang Hamenang Wajar Ismoyo, tapi netizen +62 langsung kompak memelesetkan judulnya jadi: Wajar Diciduk, Gegara Doyan Nyolong. 


​Gimana enggak, di tengah rakyat yang masih pusing tujuh keliling mikirin harga sembako dan beban hidup, para pejabat ini malah hobi banget main petak umpet sama uang negara. Baru juga diuji jadi pemimpin, eh, malah kepincut godaan duit segepok.


​Kira-kira, uang Rp 1 miliar itu mau buat bagi-bagi THR kilat atau modal nyalon periode selanjutnya, nih, Pak Bupati?


​Bagaimana nasib akhir sang bupati setelah 1x24 jam diinterogasi penyidik KPK? Apakah bakal langsung pakai rompi oranye, atau ada drama "masuk angin" lagi? Tulis komentar julidmu di bawah, dan pantau terus kelanjutan beritanya hanya di sini. (bp). 

​Bukan Sekadar Lomba, Aksi Siswa SMKN 1 Kediri di Bulan Bahasa 2026 Ini Bikin Merinding



​KEDIRI, MCE - Kemeriahan perayaan Bulan Bahasa 2026 di SMKN 1 Kota Kediri semakin membakar semangat. Memasuki hari keempat, ajang bertajuk "Symphony" ini sukses menyedot perhatian berkat panggung apresiasi yang menampilkan kreativitas luar biasa dari para siswa. Kamis (15/10/2026). 

 
​Suasana sekolah mendadak berubah menjadi lautan inspirasi. Berbagai talenta unjuk gigi, mulai dari pembacaan karya sastra yang penuh penghayatan mendalam, penampilan solo vokal yang memukau, hingga harmonisasi musik dari tim paduan suara yang berhasil menghipnotis penonton. 

 
​Kepala SMK Negeri 1 Kota Kediri, Edy Suroto, S.Pd., M.M., turut memberikan dukungan penuh terhadap kreativitas peserta didiknya. 

 
​"Setiap penampilan bagaikan melodi yang menyatukan keberagaman, membuktikan bahwa bahasa dan seni adalah jembatan ekspresi tanpa batas," ujar semangat yang terpancar dari seluruh warga sekolah. 

 
​Antusiasme yang tinggi dari para siswa dan guru kian melengkapi keseruan acara hari ini. Melalui ajang "Symphony", SMKN 1 Kota Kediri tidak hanya merayakan bulan bahasa, tetapi juga membuktikan bahwa karya generasi muda hari ini adalah suara masa depan bangsa.  (bp). 

Rabu, 14 Oktober 2026

​Wujudkan Generasi Sehat, SMKN 2 Tuban Gandeng Puskesmas Kebonsari Gelar Cek Kesehatan Gratis Bagi Seluruh Siswa


TUBAN, MCE - Dalam rangka memantau serta menjaga kondisi kesehatan fisik peserta didik, SMK Negeri 2 Tuban menyelenggarakan kegiatan Screening Cek Kesehatan Gratis (CKG) di aula sekolah. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan massal ini berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu (12–14/10/2026), sebagai hasil kerja sama dengan Puskesmas Kebonsari. Kamis (15/10/2026). 

 
​Kepala SMKN 2 Tuban, Tri Erni Hudayah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa program layanan kesehatan preventif ini diikuti secara menyeluruh oleh seluruh peserta didik dari tingkat kelas X, XI, dan XII. 

 
​Selama kegiatan berlangsung, tenaga kesehatan dari Puskesmas Kebonsari didampingi secara aktif oleh Bapak/Ibu guru pembina Palang Merah Remaja (PMR) beserta para siswa-siswi anggota PMR SMKN 2 Tuban guna memastikan alur pemeriksaan berjalan tertib dan lancar. 

 
​Adapun cakupan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan meliputi:


​• Pengecekan kesehatan gigi, mulut, dan telinga.

​• Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb). 

​• Pengukuran kadar gula darah. 

 
​Melalui deteksi dini kesehatan ini, pihak sekolah berharap para siswa dapat senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan fisik, mendeteksi potensi gangguan kesehatan sejak dini, serta menumbuhkan kesadaran pentingnya pola hidup sehat selama menempuh pendidikan di lingkungan SMKN 2 Tuban. (bp). 

Bukti Kualitas Vokasi! Kacabdindik Ponorogo Apresiasi Tim Siswi SMK Raih Juara 3 SOLVEX UIN



​PONOROGO, MCE - Di tengah pesatnya perkembangan pendidikan vokasi, kabar gembira datang dari SMK Negeri 1 Ponorogo. Tiga siswinya berhasil mengukir prestasi gemilang dengan meraih Juara 3 dalam SOLVEX Competition yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Pencapaian ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Ponorogo, Maskun, S. Pd., M.M. Rabu (14/10/2026). 


​Tim tangguh tersebut beranggotakan Salma Fauzita Kumala Adiystie dari kelas XI DKV 2, Navayin Oktavia Aulia Putri dari kelas XI AK 3, dan Rain Shafira Bilqis dari kelas XI AK 4. Mereka menunjukkan dedikasi dan kemampuan yang luar biasa dalam kompetisi bertajuk Management Culture Event ini, yang diselenggarakan pada tahun 2026. Prestasi ini semakin istimewa karena mereka mampu bersaing dengan peserta lain, yang banyak di antaranya adalah mahasiswa perguruan tinggi.


​Kacabdindik Maskun menyatakan rasa bangganya atas pencapaian para siswi tersebut. "Prestasi ini bukan hanya membanggakan bagi sekolah, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Ponorogo. Ini adalah bukti nyata bahwa kualitas pendidikan vokasi di wilayah kita semakin diakui dan mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Kami akan terus mendukung dan memfasilitasi upaya peningkatan kualitas pendidikan di seluruh sekolah binaan kami," ujar Maskun.


​Pihak SMK Negeri 1 Ponorogo juga menyambut baik prestasi ini. "Kami sangat bangga dengan pencapaian Salma, Navayin, dan Rain. Mereka telah menunjukkan semangat juang yang tinggi dan kemampuan yang luar biasa. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus belajar dan mengukir prestasi di berbagai bidang," kata perwakilan sekolah. (bp). 

Berita Terbaru