Rabu, 29 April 2026

​Sapu Bersih! SMAN 1 Jatirogo Borong 16 Piala di FLS2N Tuban 2026, 3 Siswa Melenggang ke Jatim ​



TUBAN, MCE – Gema prestasi kembali lahir dari ujung barat Kabupaten Tuban. SMAN 1 Jatirogo (SMAJA) sukses menorehkan tinta emas dengan memborong total 16 penghargaan dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kabupaten yang diselenggarakan di SMAN 1 Tuban, Rabu (29/04/2026).


​Acara yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB ini menjadi panggung pembuktian bagi siswa-siswi SMAJA. Tidak sekadar berpartisipasi, delegasi Jatirogo menunjukkan dominasi yang luar biasa di hampir seluruh cabang perlombaan seni.


​Kemenangan SMAN 1 Jatirogo dipuncaki oleh tiga talenta muda yang berhasil meraih posisi tertinggi. Shinta Nur Rochayati dari kelas X-2 tampil memukau di bidang Desain Poster dan berhasil menyabet Juara 1. Jejak kemenangan ini diikuti oleh Hafshoh Mufidah (XI-5) yang meraih Juara 1 Menulis Cerita Pendek, serta Ramanda Dico Pratama (XI-5) yang mengukuhkan diri sebagai Juara 1 Kriya. Berkat hasil ini, ketiganya resmi ditunjuk menjadi wakil Kabupaten Tuban untuk berlaga di tingkat Provinsi Jawa Timur.


​Kekuatan seni SMAJA juga terlihat merata di kategori lainnya. Pada posisi Juara 2, tercatat nama Muhammad Imam Syafi'i (XI-3) untuk bidang Cipta Puisi, Gracia Gabriel Maidangkay (XI-1) pada Cipta Lagu, serta Niscita Amala Hakim (X-7) di bidang Jurnalistik.


​Sementara itu, torehan Juara 3 berhasil dipersembahkan oleh:

​1. Arfanasrul Mukminin (XI-3) dalam bidang Menulis Cerita Pendek.

​2. Erlytha Natcwa Putri Agustina (X-3) untuk Menyanyi Solo Putri.

​3. Theresia Cindy Siboro (X-5) di cabang Monolog.
​Grecilia Prisna Ainurrohmah (XI-4) pada bidang Jurnalistik.


​Semangat pantang menyerah juga ditunjukkan oleh para peraih gelar Juara Harapan. Di kategori Harapan 1, diraih oleh Nafisa Aida Rachma (Cipta Puisi) dan Sheila Noer Rahmah (Menyanyi Solo Putri). Untuk Harapan 2, diraih oleh Oktavieno Cahya Putra (Baca Puisi) dan Rizky Ardiansyah Oktaviano (Menyanyi Solo Putra). Menutup daftar kemenangan, posisi Harapan 3 ditempati oleh Naila Zulfa (Desain Poster) serta tim Film Pendek yang beranggotakan Andina Rasti, Rakha Hanif, dan Sairena Nindita.


​Kepala SMAN 1 Jatirogo, M. Saiful Wajdi, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan kado indah bagi sekolah. "Ini adalah hasil dari kerja keras siswa dan bimbingan telaten para guru. Menang 16 kategori dalam satu hari adalah pencapaian yang fantastis," ujarnya bangga.


​Dengan hasil ini, SMAN 1 Jatirogo semakin mengukuhkan diri sebagai lumbung seniman muda di Bumi Wali. Mari kita dukung para perwakilan SMAJA yang akan berjuang membawa nama Tuban di level provinsi mendatang. (bp). 

Jembatan Merah Putih Presisi di Bangilan Diresmikan, Akses Warga Kini Lebih Aman




Tuban, MCE - Harapan warga Dusun Sambong Lombok, Desa Bangilan, akhirnya terwujud setelah jembatan yang selama ini hanya berupa bambu kini berdiri lebih kokoh dan aman dilalui. Pemerintah Kabupaten Tuban bersama Polres Tuban meresmikan Jembatan Merah Putih Presisi, Rabu (29/4), dalam rangkaian Dialog Kamtibmas yang dihadiri Bupati Tuban, Kapolres Tuban, dan Forkopimca setempat, sekaligus menandai perbaikan akses vital bagi aktivitas harian masyarakat.


Dalam kegiatan tersebut, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menjelaskan, jembatan ini menjadi jalur utama aktivitas warga. Menurut dia, akses tersebut setiap hari digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari bersekolah hingga aktivitas ekonomi seperti ke sawah dan pasar. “Dulu masih berbentuk bambu. Lalu Kapolres Tuban menginisiasi agar dalam waktu cepat jembatan ini diperbaiki,” ujarnya.


Selanjutnya, Mas Lindra—sapaan Bupati Tuban—menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Tuban atas inisiasi pembangunan. Ia menilai kehadiran Polri tidak hanya pada aspek keamanan, tetapi juga mendorong pembangunan yang berdampak langsung. “Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Tuban menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolres,” kata dia.


Menurut keterangannya, jembatan yang berdiri di atas sungai Dusun Sambong Lombok itu menggunakan struktur beton dan besi sehingga lebih aman. Ia menegaskan pembangunan ini tidak semata pada besaran anggaran, tetapi manfaat nyata bagi masyarakat.


Di sisi lain, orang nomor satu di Tuban itu juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat setempat yang menjadi faktor penting dalam proses pembangunan yang dilakukan dengan bergotong royong, mulai dari menyiapkan bahan hingga membantu pengerjaan, bahkan dukungan dalam bentuk apapun. “Ini bukti kuatnya kebersamaan,” ujarnya.


Lebih lanjut, keberadaan jembatan ini dinilai memperlancar aktivitas ekonomi dan pendidikan warga. Anak-anak kini dapat berangkat sekolah dengan lebih aman, sementara mobilitas hasil pertanian dan perdagangan menjadi lebih efisien.


Untuk itu, Bupati turut mengajak masyarakat menjaga fasilitas tersebut agar manfaatnya berkelanjutan. “Saya titip, jembatan ini dijaga dengan baik. Dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari,” pesan Mas Lindra.


Sementara itu, Kapolres Tuban AKBP Alaiddin menyampaikan pembangunan jembatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Polres Tuban dan Pemerintah Kabupaten Tuban. Menurut dia, peran pemerintah daerah menjadi penggerak utama dalam percepatan pembangunan. “Pembangunan ini bukan semata-mata oleh kami dari kepolisian. Kami hanya mendukung. Yang menjadi penggerak utama adalah Bupati bersama pemerintah daerah,” kata Kapolres.


Selain itu, Kapolres menegaskan bahwa sinergi tersebut sejalan dengan arahan pimpinan untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Ia menyebut langkah tersebut diterapkan dalam berbagai program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.


Lebih lanjut, Kapolres berharap keberadaan Jembatan Merah Putih Presisi dapat meningkatkan keselamatan dan memperlancar aktivitas warga. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat fasilitas tersebut agar manfaatnya berkelanjutan. 


“Kami berharap jembatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.


Di sisi lain, warga setempat Suparman (63) menyampaikan apresiasi atas terbangunnya Jembatan Merah Putih Presisi. Ia mengaku keberadaan jembatan tersebut menjawab kebutuhan warga yang selama ini kesulitan saat melintasi sungai, terutama ketika debit air meningkat. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Tuban dan jajaran Polres Tuban. Sekarang masyarakat tidak lagi kesulitan menyeberang,” kata dia.


Menurut dia, jembatan tersebut memberikan dampak langsung terhadap aktivitas harian warga. Akses menuju lahan pertanian, pasar, dan fasilitas pendidikan menjadi lebih mudah dan aman. Ia juga berharap agar fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga bersama agar manfaatnya terus dirasakan dalam jangka panjang. (bp).

​SMPN 2 Gambiran Gencarkan Program SAS dan Sukseskan O2SN Banyuwangi




​BANYUWANGI, MCE – Sekolah bukan sekadar ruang kelas untuk transfer ilmu pengetahuan, melainkan kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Filosofi inilah yang kini tengah digaungkan secara nyata oleh SMPN 2 Gambiran melalui inovasi program Sekolah Asuh Sekolah (SAS) serta peran aktifnya dalam mendukung talenta muda di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).


​Di bawah kepemimpinan Sabto Orbayani, S.Pd., M.Pd., SMPN 2 Gambiran membawa konsep kepedulian ke level yang lebih luas. Program SAS di sekolah ini tidak hanya berfokus pada pendampingan akademik antar-siswa, tetapi telah bertransformasi menjadi empat pilar utama:

​1. Sekolah Asuh Sekolah: Menciptakan ekosistem di mana siswa saling mendukung, sehingga tidak ada lagi siswa yang merasa terisolasi atau takut menghadapi kesulitan belajar.

​2. Sekolah Asuh Sungai: Menanamkan kesadaran ekologis untuk menjaga kelestarian sumber daya air di sekitar lingkungan sekolah.

​3. Sekolah Asuh Stunting: Bentuk kepedulian nyata dunia pendidikan terhadap isu kesehatan nasional.

4. ​Sekolah Asuh Sampah: Edukasi manajemen limbah demi terciptanya lingkungan belajar yang bersih dan nyaman.


​"Tujuan utama kami adalah menciptakan suasana sekolah yang ramah, aman, dan menyenangkan. Siswa yang mengalami kesulitan tidak perlu merasa malu, karena mereka memiliki rekan sebaya yang siap merangkul," ujar Sabto Orbayani saat ditemui di sela kesibukannya, Rabu (29/04/26).


​Hari ini, kemeriahan tampak jelas di aula SMPN 2 Gambiran yang menjadi lokasi perlombaan O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) cabang Senam Lantai. Kegiatan ini menjadi bukti nyata soliditas tenaga pendidik di Kabupaten Banyuwangi, khususnya di Kecamatan Gambiran.


​Kerja sama antar-dewan guru menjadi kunci suksesnya perhelatan ini. Mereka bahu-membahu memastikan setiap atlet muda mendapatkan panggung terbaik untuk menyalurkan bakatnya.


​Salah satu momen menyentuh datang dari Alif, peserta cilik asal SDN 6 Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Dengan wajah berseri, ia mengungkapkan kegembiraannya dapat berlaga di aula SMPN 2 Gambiran. Menariknya, seluruh fasilitas dan kepesertaan dalam kegiatan ini dipastikan gratis (free) tanpa pungutan biaya, sebagai bentuk dedikasi penyelenggara terhadap pembinaan atlet sejak dini.


​Melalui integrasi program karakter seperti SAS dan dukungan terhadap ajang prestasi seperti O2SN, SMPN 2 Gambiran berharap dapat menjadi motor penggerak kualitas pendidikan di Bumi Blambangan.


​"Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan aman, lancar, dan sukses. Ini semua demi kemajuan program pendidikan di Kabupaten Banyuwangi yang lebih inklusif dan berprestasi," pungkas Sabto Orbayani.


​Dengan semangat gotong royong dan inovasi yang berkelanjutan, SMPN 2 Gambiran membuktikan bahwa sekolah adalah rumah kedua yang nyaman bagi pertumbuhan intelektual sekaligus mental generasi penerus bangsa.

​Reporter: (S.H.)

Selasa, 28 April 2026

Gaji Kurang? Oknum Pegawai Bank di Surabaya Nekat 'Tilep' Rp2,9 Miliar Pakai Modus Pinjol Kedok Identitas Orang Lain



​SURABAYA, MCE – Lagi-lagi, integritas dunia perbankan kembali tercoreng oleh ulah tangan panjang oknum di dalamnya. Kali ini, seorang pegawai Bank BRI Cabang Surabaya Kaliasin berinisial WA mendadak jadi "artis" setelah resmi mengenakan rompi pink khas tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Senin (27/4/2026).


​Bukannya menjaga amanah nasabah, WA justru diduga asyik bermain "sulap" dengan duit negara. Tak tanggung-tanggung, total kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp2,9 miliar. Angka yang fantastis untuk sekadar gaya hidup atau ambisi pribadi, sementara rakyat kecil harus antre panjang demi pinjaman mikro yang sah.


​Berdasarkan keterangan Kepala Seksi Intelijen Kejari Surabaya, Putu Arya Wibisana, S.H., M.H., modus yang dijalankan tersangka WA terbilang cukup berani dan rapi—atau mungkin ia merasa terlalu pintar untuk tertangkap.


​Tersangka diduga menyalahgunakan fasilitas pengajuan kredit mikro. Caranya? Klasik tapi jahat: mencatut identitas orang lain untuk mencairkan dana. Tak berhenti di situ, WA juga mahir melakukan pemindahbukuan dana tanpa transaksi yang sah alias underlying transaction.


​"Perbuatan tersebut dilakukan melalui tiga rekening titipan dan satu rekening GL Pendapatan Administrasi Pelunasan," ungkap Putu Arya.


​Sepertinya WA menganggap sistem perbankan adalah mesin ATM pribadinya sendiri. Uang diputar ke sana-kemari seolah-olah miliknya, padahal itu adalah uang negara yang seharusnya digunakan untuk membangun ekonomi rakyat.


​Netizen mungkin akan bertanya, "Ke mana larinya uang sebanyak itu?" Hal itulah yang kini tengah didalami oleh Tim Penyidik Pidsus Kejari Surabaya. Untuk mencegah WA "menghilang" atau melakukan aksi "bersih-bersih" barang bukti, pihak kejaksaan langsung melakukan penahanan.


​Kini, WA harus menanggalkan seragam banknya yang rapi dan menggantinya dengan rompi tahanan. Ia dijerat dengan Pasal 603 dan 604 UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP baru) serta UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukumannya? Cukup lama untuk merenungi nasib di balik jeruji besi.


​Kejari Surabaya menegaskan bahwa kasus ini tidak akan berhenti di WA saja. Tim penyidik sedang berburu kemungkinan adanya "kaki tangan" atau pihak lain yang ikut mencicipi gurihnya uang haram Rp2,9 miliar tersebut.


​Sepandai-pandainya kalian membungkus bangkai dengan sistem digital yang rumit, bau busuk korupsi akan tercium juga. Sekarang, mari kita tunggu siapa lagi yang akan menyusul WA memakai rompi pink selanjutnya. 


​Bagaimana menurut kalian, Sobat Netizen? Kasus 'orang dalam' bank begini kok kayak nggak ada habisnya, ya? Tulis pendapat pedas kalian di kolom komentar! (bp). 

Polsek Pasrujambe Amankan Kunjungan Kerja Komisi C DPRD Lumajang di Sungai Besuk Sat



Lumajang, MCE– Anggota Polsek Pasrujambe melaksanakan pengamanan kegiatan kunjungan kerja Komisi C DPRD Kabupaten Lumajang di lokasi tambang pasir aliran Sungai Besuk Sat, Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Selasa (28/4/2026).


Kunjungan tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Lumajang H. Zaenal bersama Sekretaris Komisi C Usman. Turut hadir dalam kegiatan itu Kapolsek Pasrujambe AKP Purwaningsih, Danramil Pasrujambe Kapten Arm Ony Ariyanto, S.H., Camat Pasrujambe Muhammad Syaiful, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.


Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda tahunan Komisi C DPRD Kabupaten Lumajang dalam rangka meninjau langsung aktivitas penambangan pasir di sejumlah wilayah, termasuk di aliran Sungai Besuk Sat yang berada di Kecamatan Pasrujambe.


Kapolsek Pasrujambe AKP Purwaningsih mengatakan, pihaknya menerjunkan personel untuk melakukan pengamanan secara maksimal guna memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar.


“Kami dari Polsek Pasrujambe bersama Koramil melaksanakan pengamanan untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas selama kegiatan berlangsung. Kehadiran personel di lapangan diharapkan mampu memberikan rasa aman kepada seluruh peserta kunjungan,” ujar AKP Purwaningsih.


Ia menambahkan, pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup dengan mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat sekitar maupun para pekerja tambang. Hal ini penting mengingat lokasi kegiatan berada di area aktivitas penambangan yang cukup padat.


Selain itu, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan prosedur serta tidak menimbulkan gangguan di lingkungan sekitar.


“Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar kegiatan ini tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga tetap memperhatikan aspek keselamatan dan ketertiban umum,” imbuhnya.


Selama pelaksanaan kunjungan kerja, situasi di lokasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Tidak ditemukan adanya gangguan yang berarti, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung sesuai dengan rencana.


Kunjungan kerja ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi DPRD Kabupaten Lumajang dalam merumuskan kebijakan terkait pengelolaan tambang pasir yang berkelanjutan, serta tetap memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kontributor: budi. 

​Sambut Tahun Ajaran 2026/2027, SMAN 1 Jatirogo Tuban Matangkan Sosialisasi SPMB yang Transparan dan Akuntabel




​TUBAN, MCE – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Jatirogo, Kabupaten Tuban, resmi memulai langkah strategis dalam menyongsong tahun ajaran baru. Pada Selasa (28/04/2026), institusi pendidikan unggulan di wilayah Barat Tuban ini menggelar sosialisasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Tahun Ajaran 2026/2027.


​Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut dihadiri langsung oleh Kepala SMAN 1 Jatirogo, Muhammad Saiful Wajdi. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat guna memastikan proses seleksi berjalan sesuai koridor regulasi yang berlaku.


​Dalam narasinya, Muhammad Saiful Wajdi menyampaikan bahwa sosialisasi ini merupakan bentuk komitmen sekolah dalam menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas. Pihak sekolah berupaya memberikan informasi sedetail mungkin mengenai jalur masuk, persyaratan administratif, hingga teknis pendaftaran agar tidak terjadi disinformasi di tengah masyarakat.


​"Kami ingin memastikan bahwa setiap calon peserta didik memiliki kesempatan yang sama. Melalui sosialisasi ini, kami membuka ruang komunikasi selebar-lebarnya agar orang tua murid memahami mekanisme SPMB tahun ini yang mengedepankan objektivitas," ujar Muhammad Saiful Wajdi di hadapan para undangan.


​Selain memaparkan teknis pendaftaran, agenda ini juga menjadi ajang unjuk kesiapan SMAN 1 Jatirogo dalam memfasilitasi potensi akademik maupun non-akademik siswa. Sebagai sekolah yang terus bertransformasi di era digital, SMAN 1 Jatirogo telah menyiapkan infrastruktur sistem informasi yang mumpuni guna mempermudah proses pendaftaran daring (online).


​Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme peserta sosialisasi yang cukup tinggi. Selain pemaparan materi, acara juga diisi dengan sesi penandatanganan dokumen strategis dan diskusi interaktif. Kehadiran jajaran tenaga pendidik berpakaian dinas lengkap menunjukkan kesolidan staf sekolah dalam mengawal agenda besar tahunan ini.


​Langkah cepat yang diambil SMAN 1 Jatirogo ini diharapkan mampu menjaring bibit-bibit unggul yang siap ditempa menjadi generasi emas. Dengan latar belakang prestasi yang konsisten, SMAN 1 Jatirogo diprediksi tetap menjadi pilihan utama bagi lulusan SMP di wilayah Jatirogo dan sekitarnya.


​Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai SPMB 2026/2027, pihak sekolah telah menyediakan saluran komunikasi resmi melalui:

​Laman Resmi: smanjatirogo.sch.id

​Email: info@smanjatirogo.sch.id

​Media Sosial: @smanegerijatirogo (Instagram,YouTube, TikTok).


​Reporter: [bp/MCE]

Senin, 27 April 2026

Nurul Azizah Pastikan PIP Bojonegoro Tak Terganjal Birokrasi



BOJONEGORO, MCE – Di tengah riuh rendah isu penyaluran bantuan sosial yang kerap menjadi sorotan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memilih langkah konkret: turun ke lapangan. Bukan sekadar seremonial, kehadiran Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, di SMA Negeri 3 Bojonegoro pada Selasa (28/04/2026), menjadi sinyal kuat bahwa hak pendidikan bagi siswa kurang mampu adalah harga mati yang tak boleh diganggu gugat.


​Kunjungan ini merupakan instruksi langsung dari Bupati Bojonegoro sebagai respons cepat atas dinamika dan aspirasi masyarakat. Nurul Azizah menegaskan bahwa posisi Pemerintah Kabupaten bukan sekadar administrator, melainkan sosok "orang tua" yang memiliki kewajiban moral mengayomi dan memastikan tidak ada satu pun anak Bojonegoro yang putus sekolah karena kendala biaya.


​"Kami datang untuk memastikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) ini sampai ke tangan yang berhak tanpa potongan, utuh, dan tepat sasaran," tegas Nurul Azizah saat menyapa para siswa di ruang kelas.


​Dari hasil interaksi langsung dengan para siswa, ditemukan fakta yang menyentuh sekaligus membanggakan. Dana PIP yang dikucurkan ternyata dikelola dengan sangat bijak oleh para siswa penerima manfaat. Alih-alih digunakan untuk kebutuhan konsumtif, dana tersebut menjadi "napas" baru bagi pendidikan mereka.


​Berikut adalah potret penggunaan dana PIP oleh siswa SMA Negeri 3 Bojonegoro:


​Pengadaan Seragam: Memastikan identitas dan kebanggaan siswa tetap terjaga di sekolah.

​Literasi Digital: Pembelian perangkat komunikasi (HP) sebagai sarana penunjang pembelajaran berbasis teknologi.

​Investasi Masa Depan: Sebagian siswa memilih menabung sisa bantuan untuk persiapan biaya pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


​Mekanisme pencairan di SMA Negeri 3 Bojonegoro terbukti berjalan transparan. Pihak sekolah bertindak sebagai jembatan informasi, sementara proses pencairan dilakukan secara mandiri oleh wali murid atau siswa melalui Bank BNI. Pola ini menutup celah adanya pungutan liar atau praktik pemotongan oleh pihak ketiga.


​Kepala SMA Negeri 3 Bojonegoro, Tri Herwidyatmono, mengapresiasi langkah monitoring ini. Menurutnya, PIP adalah instrumen vital yang menjaga daya saing siswa dari keluarga prasejahtera agar tetap mampu berlari mengejar prestasi.


​Senada dengan hal tersebut, Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kancabdin) Bojonegoro, Agus Hariyono, menekankan pentingnya sinergi. Ia menyebut media massa memiliki peran krusial sebagai kontrol sosial agar program-program pemerintah tetap berada pada jalurnya.


Keberhasilan pendidikan di Bojonegoro bukanlah kerja satu pihak. Transparansi yang ditunjukkan hari ini adalah pesan bagi seluruh elemen masyarakat: bahwa tantangan ekonomi tidak boleh lagi menjadi tembok penghalang bagi mimpi anak-anak daerah.


​Dengan pengawasan ketat dan kehadiran pemimpin di tengah-tengah siswa, Bojonegoro sedang membangun fondasi masa depan di mana kemiskinan tidak lagi memiliki tempat untuk mencuri cita-cita. Tidak ada anak yang boleh tertinggal, karena setiap anak adalah aset masa depan Bojonegoro. (bp). 

Berita Terbaru