Selasa, 27 Oktober 2026

​Sumpah Pemuda 2026: Saatnya Madrasah Cetak Generasi Pintar tapi Tidak Kebablasan KKN!



​Refleksi Hari Sumpah Pemuda, M. Luthfillah tegaskan pentingnya memutus rantai Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme mulai dari bangku sekolah demi menyongsong Indonesia Emas 2045.


​LAMONGAN, MCE - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang jatuh pada 28 Oktober 2026 membawa pesan reflektif yang mendalam bagi dunia pendidikan di Indonesia. Jika pada tahun 1928 para pemuda bersumpah melawan penjajah kolonial, maka musuh utama generasi muda hari ini jauh lebih dekat dan berbahaya: Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).


​Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kementerian Agama RI 2022, M. Luthfillah, M.Ag., dalam artikel ilmiah populer terbarunya. Menurutnya, data dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan fakta ironis bahwa banyak pelaku korupsi justru datang dari kalangan orang pintar dengan latar belakang akademis tinggi.


​"Pintar saja tidak cukup, harus jujur juga. Jika KKN tidak diberantas hingga ke akar-akarnya, cita-cita Indonesia Emas 2045 akan gagal total karena anggaran pembangunan habis terkuras korupsi," ujar M. Luthfillah.


​Musuh Baru Bernama KKN: Dari Hal Terkecil di Sekolah


​Dalam ulasannya, Luthfillah menguraikan bentuk-bentuk KKN dalam bahasa sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa di madrasah atau sekolah:


​• Korupsi (Ghulul): Mengambil harta yang bukan haknya, sekecil apa pun bentuknya. Contoh sederhana adalah bendahara OSIS yang menggunakan uang kas untuk keperluan pulsa pribadi. Dalam Islam, perbuatan ini diancam dengan hukuman berat sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali Imran ayat 161.


​• Kolusi: Kerja sama curang yang merugikan pihak lain, seperti pengaturan pemenang lomba tanpa dasar prestasi.


​• Nepotisme: Mengutamakan kedekatan keluarga atau kelompok (ordal), seperti manipulasi nilai atau penentuan juara kelas karena faktor relasi, bukan kompetensi.


​Nilai Sumpah Pemuda sebagai 'Vaksin' Anti KKN


​Luthfillah memetakan bahwa hakikat nilai Sumpah Pemuda sebenarnya adalah penangkal utama KKN:


​• Satu Nusa melawan Kolusi yang memonopoli kekayaan bangsa untuk kelompok sendiri.

​• Satu Bangsa melawan Nepotisme yang mementingkan golongan atau keluarga.

​• Satu Bahasa melawan Korupsi yang merusak integritas bahasa kejujuran (seperti istilah "uang damai" atau "uang pelicin").


​4 Strategi Membumikan Generasi Anti KKN di Madrasah


​Untuk mewujudkan transformasi moral ini, ia menawarkan empat strategi bertingkat yang praktis diterapkan di lingkungan madrasah:


​• Mulai dari Hati (Iman): Menanamkan kesadaran spiritual bahwa pengawasan Allah SWT melebihi apa pun (Hifzh al-Mal).


​• Mulai dari Kelas (Ilmu): Mengintegrasikan materi anti-korupsi, seperti bab suap (risywah) dan ghulul, secara kontekstual dalam pembelajaran fikih dan mata pelajaran umum.


​• Mulai dari Sekolah (Budaya): Menciptakan ekosistem sekolah yang transparan—mulai dari pelaporan uang kas, transparansi penilaian, hingga pemilihan ketua OSIS yang bersih dari praktik ordal.


​• Mulai dari Sumpah (Aksi Nyata): Menggagas ikrar khusus pada Upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026: "Kami Pemuda Indonesia, Bersumpah: Tidak Korupsi, Tidak Kolusi, Tidak Nepotisme."


​Rumus Menuju Pemimpin Masa Depan


​Menutup ulasannya, M. Luthfillah menekankan bahwa tolok ukur kesuksesan Generasi Emas 2045 bukan hanya seberapa tinggi nilai akademik, melainkan seberapa bersih tangan mereka dari praktik merusak bangsa.


​"Rumusnya sederhana: Pintar ditambah Jujur sama dengan Pemimpin Emas. Sebaliknya, Pintar ditambah Curang sama saja dengan Penjahat Berdasi," pungkasnya.


​Peringatan Sumpah Pemuda tahun 2026 ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni seremonial belaka, melainkan momentum kebangkitan moral bangsa yang dimulai dari ruang-ruang kelas madrasah di seluruh Indonesia. (bp). 

Polres Jombang Bekuk 51 Pengedar, Kecamatan Ini Jadi Titik Hitam Paling Rawan




​
​JOMBANG, MCE - Komitmen tegas membersihkan wilayah hukum dari cengkeraman barang haram kembali dibuktikan jajaran Kepolisian Resor (Polres) Jombang. Melalui Operasi Sarang Narkoba yang digencarkan secara masif, Satresnarkoba Polres Jombang sukses membongkar 41 kasus tindak pidana narkotika hanya dalam kurun waktu tiga bulan, terhitung sejak Juli hingga September 2026.


​Tidak tanggung-tanggung, operasi penindakan intensif yang menyasar berbagai wilayah rawan ini berhasil menyeret 51 orang tersangka ke balik jeruji besi.


​Konferensi pers yang digelar di Graha Bhakti Bhayangkara Mapolres Jombang, Senin (26/10/2026), memamerkan tumpukan barang bukti hasil sitaan yang mencengangkan. Polisi mengamankan 80,18 gram sabu-sabu, 12,18 gram ganja, serta 51.166 butir pil obat keras berbahaya (okerbaya) yang siap merusak masa depan generasi bangsa.


​Kapolres Jombang, AKBP Dr. H. Yanto Mulyanto P, S.H., S.I.K., M.H., M.Si., memaparkan bahwa grafik pengungkapan kasus tertinggi mendominasi awal triwulan III.


​“Pada Juli kami menangani 17 laporan polisi dengan 20 tersangka. Bulan Agustus ada 15 laporan dengan 19 tersangka, lalu September menurun jadi sembilan laporan dan 11 tersangka,” ungkap Kapolres Jombang.


​Mojoagung Jadi "Titik Hitam" Peredaran


​Dari pemetaan Tempat Kejadian Perkara (TKP), aparat kepolisian berhasil memetakan wilayah-wilayah yang menjadi pusat aktivitas hitam peredaran narkoba di Kota Santri.


​Kecamatan Mojoagung mencatatkan rekor tertinggi dengan delapan titik lokasi, disusul Jogoroto di posisi kedua dengan tujuh TKP. Sementara itu, kawasan Jombang Kota dan Diwek masing-masing menyumbang enam titik, disusul wilayah Perak, Sumobito, Tembelang, hingga area perbatasan Purwoasri Kediri dan kecamatan terluar lainnya.


​Menyasar Usia Produktif


​Ironisnya, dari profil para tersangka yang diamankan, mayoritas pelaku berada pada usia produktif, yakni rentang 25 hingga 64 tahun dengan total 42 orang. Dari aspek latar belakang sosial, sebagian besar tersangka berstatus sebagai pekerja swasta dan berpendidikan tingkat SMA yang nekat terjebak dalam lingkaran hitam demi mengejar keuntungan instan.


​Pemetaan komprehensif ini kini menjadi acuan strategis kepolisian untuk memperketat ring pengawasan, memastikan ruang gerak para bandar dan pengedar di Jombang benar-benar terkunci rapat.


​“Kami akan terus melakukan penindakan dan tidak berhenti di sini, demi menjaga kondusivitas keamanan dan mewujudkan Kabupaten Jombang yang bersih dari narkoba,” pungkas Kapolres Jombang dengan nada tegas. (bp). 

Senin, 26 Oktober 2026

Suami Durjana Pembunuh Istri Siri dan Anak Ditangkap Tanpa Perlawanan di Jombang



​
​SURABAYA, MCE - Niat hati ingin berakting jadi korban kehilangan agar tidak dicurigai, langkah sang suami durjana berinisial DB akhirnya terhenti di tangan polisi. Tersangka kasus pembunuhan keji terhadap istri sirinya, DH (30), dan anak tirinya yang masih balita, AGF (4), berhasil diringkus tanpa perlawanan di sebuah rumah teman di Gudo, Jombang, pada Minggu (25/10) malam.


​Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, membeberkan bahwa penangkapan ini bermula dari insting tajam penyidik yang mencium bau busuk kebohongan dalam laporan "orang hilang" yang dibuat oleh DB sendiri. Kecurigaan kian menjadi ketika sang suami ikut-ikutan lenyap bagai ditelan bumi saat dicari di kediaman kerabat maupun rekan-rekannya.


​"Dari awal sudah kelihatan aktingnya bolong-bolong. Lapor istri dan anak hilang, tapi dia sendiri malah ngibrit kabur. Jelas bikin penyidik curiga!"


​Sebelum mencokok pelaku utama, polisi terlebih dahulu mengamankan adik tersangka bersama istri sahnya di Surabaya untuk digelandang ke ruang pemeriksaan. Langkah taktis ini membuahkan hasil manis setelah informasi krusial mengenai tempat persembunyian DB di Jombang berhasil dikantongi. Meski demikian, pihak kepolisian menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap keluarga tersangka murni untuk pendalaman penyelidikan, bukan berarti mereka ikut terlibat dalam aksi keji tersebut.


​Usai dibekuk, DB langsung digiring ke Mapolda Jatim guna menjalani pemeriksaan intensif. Tak berhenti sampai di situ, aparat penegak hukum berencana membongkar tuntas borok sang pelaku dengan melakukan pengembangan ke sejumlah titik krusial di Kota Madiun—termasuk sebuah hotel yang diduga menjadi lokasi eksekusi sadis, serta tempat pelaku membakar jasad para korban demi menghilangkan jejak.


​Jejak Kebohongan yang Terbongkar


​Kasus sadis ini sejatinya bermula dari kepanikan semu keluarga yang melaporkan DH dan sang anak hilang sejak 20 September 2026. Selama lebih dari sebulan, keluarga berupaya mencari keberadaan korban sebelum akhirnya resmi melapor ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026.


​Namun, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Kejanggalan demi kejanggalan yang ditutup-tutupi DB akhirnya rontok di hadapan penyidik Jatanras Polda Jatim, sekaligus mengungkap skenario busuk di balik raibnya ibu dan anak tersebut.


​Kini, publik tinggal menunggu detik-detik penyesalan sang pelaku yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan biadabnya di balik jeruji besi. (bp). 

​Maksud Hati Awasi Bantuan Pendidikan, Plt Ketua Komnas Pendidikan Bojonegoro Malah Diusir Humas SMAN Dander! Komite Ikut Diseret ​




​BOJONEGORO — Niat hati menjalankan fungsi pengawasan dan koordinasi terkait transparansi bantuan pendidikan pemerintah, Pelaksana Harian (Plt) Ketua Komisi Nasional Pendidikan (Komnas Pendidikan) Kabupaten Bojonegoro yang juga menjabat sebagai Pengurus Komisi Nasional Pendidikan Wilayah Jawa Timur, Bangun Purnomo, justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Ia diduga diusir oleh oknum Humas SMAN Dander, Kabupaten Bojonegoro, saat hendak menemui kepala sekolah pada Senin (26/10/2026).


​Insiden bermula ketika Bangun Purnomo mendatangi SMAN Dander untuk melakukan kunjungan kerja resmi. Setibanya di lokasi, ia mengikuti prosedur tamu dengan bertamu, melapor kepada bagian resepsionis, dan mengisi daftar tamu digital secara tertib.


​Tidak lama berselang, seorang staf yang memperkenalkan diri sebagai Humas SMAN Dander bernama Satriya menemui Bangun Purnomo guna menanyakan maksud dan tujuan kunjungannya.


​"Saya bilang mau ketemu kepala sekolah untuk koordinasi terkait bantuan pendidikan dari pemerintah, salah satunya seperti Program Indonesia Pintar (PIP). Bukannya dipertemukan dengan kepala sekolah, saya malah di-handle sendiri oleh yang bersangkutan," ungkap Bangun Purnomo kepada awak media, Senin (26/10/2026).


​Suasana kunjungan kerja yang semestinya berjalan kooperatif mendadak memanas. Menurut keterangan Bangun, oknum Humas tersebut menyatakan bahwa pengelolaan dana PIP di sekolah tersebut telah ditangani sepenuhnya oleh pihak sekolah bersama komite sekolah.


​Mendengar klaim tersebut, Bangun melontarkan pertanyaan kritis mengenai sejak kapan komite sekolah memiliki kewenangan penuh mengurus mekanisme teknis PIP. Namun, respons yang didapat justru di luar dugaan. Alih-alih mendapatkan penjelasan yang transparan, Bangun mengaku justru diusir dari lingkungan sekolah oleh sang humas.


​Ironisnya, oknum Humas tersebut juga sempat melontarkan kalimat bernada meremehkan dengan mempertanyakan kapasitas lembaga pengawas independen tersebut. "Apa hubungannya dengan sekolah?" cetus Satriya, seperti ditirukan oleh Bangun.


​Tindakan arogansi dan pengusiran ini dinilai telah melampaui batas etika pelayanan publik di instansi pendidikan. Terlebih, posisi Bangun Purnomo hadir membawa mandat resmi sebagai representasi lembaga pengawas independen di tingkat regional.


​"Hal ini tentu mencederai saya secara kelembagaan sebagai Pengurus Komisi Nasional Pendidikan wilayah Jawa Timur, sekaligus mencederai marwah dunia pendidikan di Bojonegoro yang seharusnya terbuka terhadap fungsi pengawasan publik," tegas Bangun dengan nada kecewa.


​Hingga berita ini diturunkan, pihak SMAN Dander maupun Kepala Sekolah bersangkutan belum memberikan keterangan resmi terkait insiden pengusiran dan polemik pengelolaan bantuan PIP di sekolah tersebut. Publik kini menanti langkah tegas dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah maupun Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur atas dugaan pelecehan institusi pengawas pendidikan ini. (Bangun Purnomo : Koordinator IT & Media Komisi Nasional Jawa Timur). 

Minggu, 25 Oktober 2026

Ini Alasan Krusial TKA dan ANBK Jadi Penentu Utama Lolos PTN Favorit




​LAMONGAN, MCE - Di tengah dinamika sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang kian kompetitif, masih banyak pihak yang memandang Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) sekadar sebagai rutinitas administratif belaka. Padahal, di era transformasi pendidikan saat ini, kedua instrumen tersebut memegang peran krusial sebagai penentu utama keberhasilan siswa tingkat Menengah Atas (MA/SMA) menembus gerbang Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit. Senin (26/10/2026). 


​Pandangan tersebut ditegaskan oleh M. Luthfillah, M.Ag., Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kemenag RI 2022 sekaligus Ketua Komisi Nasional Pendidikan Kabupaten Lamongan. Menurutnya, paradigma baru seleksi masuk PTN menuntut kesiapan komprehensif dari jejak akademik siswa selama tiga tahun menempuh pendidikan.


​"TKA dan ANBK bukan sekadar formalitas evaluasi, melainkan 'ijazah tidak tertulis' yang dibaca secara objektif oleh sistem seleksi perguruan tinggi," ujar Luthfillah.
​TKA: Cermin Kesiapan Kognitif dan Prediktor SNBT


​Dalam analisisnya, TKA diposisikan sebagai cermin kemampuan akademik sejati bagi siswa. Ada tiga alasan utama mengapa TKA tidak boleh dianggap remeh:


​• Prediktor Utama SNBT: Format dan substansi soal TKA memiliki tingkat kemiripan hingga 90% dengan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT. Siswa yang serius mempersiapkan TKA sejak dini secara otomatis telah mencicil persiapan UTBK satu tahun lebih awal.


​• Validasi Objektif Rapor untuk SNBP: Dalam jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), angka rapor tinggi tidak lagi menjadi jaminan mutlak jika tidak didukung validasi eksternal. Sebagai ilustrasi, siswa dengan rata-rata rapor 88 namun memiliki skor TKA 85 akan jauh lebih unggul dibandingkan siswa berapor 90 dengan skor TKA 40.


​• Pembangunan Mentalitas HOTS: TKA melatih daya tahan kognitif siswa dalam menghadapi soal-soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang menuntut analitis tinggi, bukan sekadar hafalan.


​ANBK: Fondasi Reputasi dan "Tiket Masuk" Kolektif Sekolah


​Jika TKA membangun personal branding siswa, maka ANBK berfungsi membangun institutional branding madrasah atau sekolah. Dampak ANBK bersifat sistemik dan jangka panjang bagi institusi:


​• Penentu Indeks Reputasi Sekolah: Hasil ANBK terintegrasi langsung ke dalam Rapor Pendidikan. Capaian indikator yang baik (zona hijau) secara langsung berimplikasi pada perluasan kuota kelayakan sekolah di ajang SNBP.


​• Seleksi Karakter Holistik: PTN favorit saat ini tidak hanya mencari calon mahasiswa yang cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki profil karakter dan literasi-numerasi yang matang—di mana keduanya dipotret secara akurat melalui instrumen ANBK.


​• Investasi untuk Adik Kelas: ANBK yang dikerjakan secara asal-asalan oleh satu angkatan dapat menurunkan indeks mutu sekolah, yang pada akhirnya justru merugikan kesempatan adik kelas mereka dalam dua tahun ke depan.


​Kesimpulan dan Rekomendasi


​Melihat urgensi tersebut, transformasi pola pikir mutlak diperlukan oleh pihak sekolah, guru, orang tua, dan siswa itu sendiri. Persiapan menghadapi TKA dan ANBK harus sudah digalakkan secara terstruktur paling lambat sejak siswa menginjak Kelas 11.


​Dengan strategi yang matang, TKA dan ANBK tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan jembatan emas menuju kesuksesan akademik di PTN impian. (bp). 


​

Sabtu, 24 Oktober 2026

​Komitmen Tanpa Kompromi: Polda Jatim Gencarkan Razia Hiburan Malam Demi Jatim Bersih Narkoba





​SURABAYA, MCE - Komitmen Polda Jawa Timur dalam memutus mata rantai peredaran gelap narkotika di bumi pertiwi tak pernah surut. Langkah nyata kembali dibuktikan melalui operasi penindakan tegas yang digagas oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jatim di sejumlah titik hiburan malam wilayah Kota Surabaya, Rabu (21/10/2026) malam.


​Tidak main-main, razia berskala besar ini melibatkan 100 personel gabungan dari Ditresnarkoba, Kogartap, Bidpropam, Dit Samapta, hingga Biddokkes Polda Jatim. Operasi yang dibagi menjadi dua tim taktis ini dipimpin langsung oleh Dirresnarkoba Polda Jatim, Kombes Pol Muhammad Kurniawan, S.I.K., M.Si.
​

Langkah penegakan hukum ini menjadi sinyal kuat sekaligus peringatan keras bagi siapa saja yang mencoba bermain-main dengan barang haram di wilayah hukum Polda Jatim. Ruang gerak sindikat narkoba di tempat hiburan dipastikan semakin sempit demi menjamin keselamatan generasi bangsa dan menjaga ketertiban umum Kota Surabaya.


​Keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) adalah harga mati. Mari bersama-sama kita dukung langkah tegas aparat penegak hukum untuk mewujudkan Jawa Timur Bersih Narkoba (Bersinar). (bp). 


​
​#PoldaJatim #DitresnarkobaPoldaJatim #PerangLawanNarkoba #JatimBersinar 

​1,2 Ton Sabu Terbongkar di Aceh: Jangan Cuma Tangkap Koki Lapangan, Seret Pemodal Kakapnya Sampai ke Akar



​Aceh, MCE - Ada yang salah dengan cara kita menjaga gerbang negeri ini. Ketika sebuah wilayah yang dikenal dengan syariat dan nilai religiusitasnya yang kuat justru kecolongan oleh berdirinya sebuah clandestine laboratory alias laboratorium gelap narkotika terbesar di Indonesia, ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah tamparan keras bagi kedaulatan hukum dan sistem pengawasan kita. Jumat (23/10/2026). 
​

Tim gabungan Polri, BNN, dan Bea Cukai baru saja membongkar sindikat narkotika internasional lintas negara (China, Malaysia, Indonesia) di Mutiara Timur, Pidie, Aceh. Angkanya sama sekali bukan main-main: 1,2 ton sabu (gabungan cair dan kristal) dengan estimasi nilai ekonomis mencapai Rp 2,16 Triliun berhasil disita.
​

Yang bikin geleng-geleng kepala sekaligus mengelus dada, modus operandi para pelaku ini sudah seperti adegan film kriminal kelas teri yang naik level. Bagaimana bisa seorang ahli kimia impor leluasa masuk, survei lokasi, menyewa sebuah ruko di tengah permukiman warga, lalu meracik narkotika jenis Blue Ice kualitas wahid hanya dengan memanfaatkan peralatan rumah tangga biasa seperti mesin cuci dan freezer? Ke mana mata dan telinga kita selama ini?


​Dari Mesin Cuci Hingga Ancaman 6 Juta Anak Bangsa


​Mari kita hitung dengan logika dingin. Jika saja 1,2 ton sabu racikan komplotan lintas negara ini lolos dan sempat beredar di pasaran, 6 juta anak bangsa dipastikan terancam masa depannya. Belum lagi beban kerugian negara untuk pemulihan dan rehabilitasi korban yang diperkirakan bisa menyedot anggaran hingga Rp 10 Triliun.


​Pertanyaannya sekarang: seberapa longgar celah pengawasan di level tapak hingga sindikat asing berani menjadikan sudut-sudut wilayah kita sebagai tempat meracik racun kematian? Apakah karena sistem pengawasan lingkungan kita yang terlampau cuek, atau justru ada oknum-oknum "tikus berdasi" yang sengaja menutup mata demi gelimang rupiah instan?


​Publik tentu tidak boleh gampang puas. Penegakan hukum jangan sampai berhenti pada penangkapan para "koki" lapangan atau pesuruh lokal yang sekadar menjadi bemper pengaman. Aparat penegak hukum dituntut untuk membongkar tuntas akar hingga ke daunnya: siapa pemodal utamanya, siapa pelindung di balik layar, dan siapa aktor intelektual kelas kakap yang mendanai seluruh operasi busuk ini.


​Suara Netizen: Kawal Kasusnya, Jaga Jarinya


​Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman narkotika global sudah merangsek masuk hingga ke jantung daerah tanpa pandang bulu. Kini, saatnya publik mengambil peran sebagai pengawas sosial yang kritis. Jangan biarkan bandar besar tidur nyenyak sementara generasi muda menanggung akibatnya.


​Bagaimana menurut kalian, guys? Kenapa jaringan internasional ini bisa begitu berani dan nekat membangun pabrik haram di dalam negeri? Apakah karena masyarakat sekitar sudah terlalu apatis dengan dinamika lingkungan, atau memang ada celah sistemik yang sengaja dibiarkan. (bp). 

Berita Terbaru