Senin, 27 April 2026

Tragedi Berdarah Bekasi Timur: Nyawa Taruhannya, Petugas Berjibaku Potong Logam Demi Korban yang Masih Terjepit




Jakarta, MCE - Malam mencekam di Stasiun Bekasi Timur (27/4) berubah menjadi mimpi buruk yang belum usai. Tabrakan "adu banteng" antara sang raja jalanan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line kini memakan tumbal. Hingga Selasa pagi, jumlah korban tewas resmi merangkak naik menjadi lima orang—dan angka ini diprediksi belum akan berhenti.


​Bukan sekadar evakuasi biasa, tim Basarnas kini harus bertaruh waktu dengan maut. Bayangkan, petugas harus memotong logam-logam raksasa yang saling menghimpit dengan ruang gerak yang nyaris nol. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengakui betapa "ekstra" tenaga yang dibutuhkan untuk membedah rongsokan besi tua tersebut.


​Di dalam sana, di balik gerbong yang ringsek tak berbentuk, masih ada detak jantung yang tersisa. "Kami pastikan korban masih bisa diajak komunikasi," ujar Syafii. Inilah alasan mengapa gerbong tidak boleh digeser seinci pun; satu gerakan salah, nyawa yang tersisa bisa melayang. (bp). 



Artikel Terkait

Tragedi Berdarah Bekasi Timur: Nyawa Taruhannya, Petugas Berjibaku Potong Logam Demi Korban yang Masih Terjepit
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru