Rabu, 08 Juli 2026

PENTINGNYA ARSIPARIS DAN KEHUMASAN DALAM MENGANGKAT CITRA MADRASAH DAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN/KOTA SE-JAWA TIMUR




*Gus Luthfi*

MAN 2 Lamongan

_Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kementerian Agama RI 2022_


 *ABSTRAK*

Di era keterbukaan informasi, citra lembaga tidak hanya ditentukan oleh kinerja, tetapi juga oleh kemampuan mendokumentasikan dan mengkomunikasikannya. Artikel ini mengkaji urgensi peran arsiparis dan humas dalam mengangkat citra Madrasah dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Arsiparis berperan menjaga akuntabilitas melalui pengelolaan arsip yang tertib dan digital, sementara humas berperan membangun narasi positif kepada publik. Hasil kajian menunjukkan bahwa sinergi keduanya mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat, mempermudah akreditasi dan audit, serta memperkuat branding lembaga. Penguatan SDM, digitalisasi arsip melalui SRIKANDI, dan pembentukan tim komunikasi terpadu menjadi kunci keberhasilan.

*Kata Kunci*: Arsiparis, Kehumasan, Citra Lembaga, Madrasah, Kementerian Agama


*PENDAHULUAN*

Di era digital, kinerja baik saja tidak cukup. Madrasah dan Kantor Kemenag Kabupaten/Kota harus "bekerja baik dan diketahui baik". Dua profesi kunci di sini adalah *Arsiparis* dan *Humas*. Arsiparis menjaga data dan bukti kerja. Humas membangun narasi dan kepercayaan publik. Tanpa keduanya, citra positif lembaga sulit terbangun.


 *URGENSI PERAN*


*1. Arsiparis: Penjaga Memori dan Akuntabilitas*

Arsip adalah bukti. Data siswa, prestasi KSM, laporan BOS, dokumentasi kegiatan, hingga SK guru harus tertib dan mudah diakses. Arsip yang rapi mempermudah akreditasi, audit, dan perencanaan. Dengan digitalisasi melalui SRIKANDI, arsip menjadi bahan baku yang valid untuk publikasi.[1]


*2. Kehumasan: Arsitek Citra Publik*

Humas mengubah data menjadi cerita. Melalui website, media sosial, rilis pers, dan hubungan dengan media, humas mengangkat prestasi madrasah dan inovasi layanan Kemenag. Satu konten positif bisa membangun kepercayaan ribuan masyarakat.[2]


*3. Sinergi: "Data Menjadi Cerita"*

Arsip tanpa publikasi = tidak dikenal. Publikasi tanpa data = tidak dipercaya.

Rumusnya: `Arsip Valid + Narasi Kreatif = Citra Kuat`

Contoh: Prestasi siswa yang diarsipkan rapi, lalu dikemas humas jadi video dan berita, akan mendongkrak nama madrasah secara nasional.

*TANTANGAN & SOLUSI*

*Tantangan*: SDM merangkap, dokumentasi minim, dan belum optimalnya media.

*Solusi*:

1. *Bentuk Tim Arsip-Humas* di setiap satker dan madrasah.

2. *Digitalisasi & Satu Data* melalui SRIKANDI dan website.

3. *Pelatihan rutin* oleh Kanwil Kemenag Jatim bersama ANRI dan Diskominfo.

4. *Apresiasi* "Satker dan Madrasah Paling Informatif se-Jatim".

 *PENUTUP*

Citra adalah hasil dari kerja yang terdokumentasi dan dikomunikasikan.

*Arsiparis memastikan kita tidak lupa apa yang telah kita kerjakan. Humas memastikan masyarakat tidak lupa kebaikan yang telah kita lakukan.*


Jika bersinergi, maka Madrasah dan Kantor Kemenag se-Jawa Timur akan menjadi lembaga yang tidak hanya _hebat_, tetapi juga _terpercaya dan dibanggakan_.


_Wallahu a’lam bish-shawab_

 *DAFTAR PUSTAKA SINGKAT*

1. UU No. 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan

2. Pedoman Humas Kemenag RI, 2020

3. Data Kanwil Kemenag Prov. Jawa Timur, 2023[1][2][3].

Artikel Terkait

PENTINGNYA ARSIPARIS DAN KEHUMASAN DALAM MENGANGKAT CITRA MADRASAH DAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN/KOTA SE-JAWA TIMUR
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru