Jumat, 03 Juli 2026

​Tembus 682 Peserta, PAMNAS Bonsai 2026 di Alun-Alun Lamongan Jadi Magnet Pecinta Karya Seni Tanaman Nasional




LAMONGAN, MCE – Alun-Alun Lamongan disulap menjadi galeri seni raksasa seiring dibukanya Pameran dan Kontes Bonsai Nasional (PAMNAS) 2026, Selasa (30/6). Diikuti oleh ratusan kontestan dari berbagai penjuru daerah, perhelatan akbar ini menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian perayaan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457.


​Acara yang berlangsung hingga 4 Juli 2026 tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Kehadiran komunitas dan pecinta bonsai, khususnya dari wilayah Jawa Timur, sukses menegaskan posisi Lamongan sebagai tuan rumah kompetisi bergengsi skala nasional.


​Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Pak Yes tersebut menyampaikan apresiasi mendalam atas tingginya partisipasi peserta. Menurutnya, ledakan antusiasme ini menjadi bukti sahih bahwa industri dan seni bonsai tanah air terus mengalami tren pertumbuhan yang positif.


​"Terima kasih atas dukungan seluruh rekan-rekan PPBI (Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia), khususnya cabang-cabang di Jawa Timur yang hampir tumplek-blek hadir di Lamongan. Antusiasme ini menjadi energi besar bagi kami untuk terus menghadirkan ruang yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga efektif menggerakkan roda perekonomian daerah," ujar Pak Yes.


​Kompetisi Sengit di Empat Kelas Bergengsi


​Tercatat, sebanyak 682 pohon bonsai terbaik ambil bagian dalam kompetisi tahun ini. Persaingan ketat tersaji di berbagai kategori, mulai dari kelas pemula hingga kelas para master.


​Secara rinci, PAMNAS 2026 menampung 20 pohon di Kelas Utama, 41 pohon di Kelas Madya, 206 pohon di Kelas Pratama, dan didominasi oleh 415 pohon di Kelas Bahan. Tingginya angka partisipasi ini merefleksikan kepercayaan besar komunitas bonsai nasional terhadap kualitas penjurian dan fasilitas yang disediakan Pemerintah Kabupaten Lamongan.


​Menilik Bonsai dari Kacamata Ekonomi Kreatif


​Lebih lanjut, Pak Yes menekankan bahwa eksistensi tanaman kerdil ini telah bergeser dari sekadar hobi komunal menjadi sektor ekonomi kreatif yang sangat menjanjikan. Investasi waktu dan perawatan pada sebatang bonsai berbanding lurus dengan nilai ekonominya yang terus meroket.


​"Bonsai memiliki rantai ekonomi yang panjang dan inklusif. Mulai dari pembibit, pencari bahan, perajin pot, hingga seniman pembentuk (trainer) bonsai, semuanya mendapatkan dampak ekonomi langsung. Inilah wujud nyata ekonomi kerakyatan yang harus terus kita dukung dan fasilitasi," imbuhnya.


​Melalui momentum PAMNAS 2026 ini, Pemkab Lamongan berharap ajang ini tidak sekadar menjadi panggung kompetisi estetika, melainkan mampu memperluas jejaring bisnis antardaerah sekaligus memberikan stimulus signifikan bagi perputaran ekonomi lokal. (s.genk). 

Artikel Terkait

​Tembus 682 Peserta, PAMNAS Bonsai 2026 di Alun-Alun Lamongan Jadi Magnet Pecinta Karya Seni Tanaman Nasional
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru