Sabtu, 24 Oktober 2026

​1,2 Ton Sabu Terbongkar di Aceh: Jangan Cuma Tangkap Koki Lapangan, Seret Pemodal Kakapnya Sampai ke Akar



​Aceh, MCE - Ada yang salah dengan cara kita menjaga gerbang negeri ini. Ketika sebuah wilayah yang dikenal dengan syariat dan nilai religiusitasnya yang kuat justru kecolongan oleh berdirinya sebuah clandestine laboratory alias laboratorium gelap narkotika terbesar di Indonesia, ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah tamparan keras bagi kedaulatan hukum dan sistem pengawasan kita. Jumat (23/10/2026). 
​

Tim gabungan Polri, BNN, dan Bea Cukai baru saja membongkar sindikat narkotika internasional lintas negara (China, Malaysia, Indonesia) di Mutiara Timur, Pidie, Aceh. Angkanya sama sekali bukan main-main: 1,2 ton sabu (gabungan cair dan kristal) dengan estimasi nilai ekonomis mencapai Rp 2,16 Triliun berhasil disita.
​

Yang bikin geleng-geleng kepala sekaligus mengelus dada, modus operandi para pelaku ini sudah seperti adegan film kriminal kelas teri yang naik level. Bagaimana bisa seorang ahli kimia impor leluasa masuk, survei lokasi, menyewa sebuah ruko di tengah permukiman warga, lalu meracik narkotika jenis Blue Ice kualitas wahid hanya dengan memanfaatkan peralatan rumah tangga biasa seperti mesin cuci dan freezer? Ke mana mata dan telinga kita selama ini?


​Dari Mesin Cuci Hingga Ancaman 6 Juta Anak Bangsa


​Mari kita hitung dengan logika dingin. Jika saja 1,2 ton sabu racikan komplotan lintas negara ini lolos dan sempat beredar di pasaran, 6 juta anak bangsa dipastikan terancam masa depannya. Belum lagi beban kerugian negara untuk pemulihan dan rehabilitasi korban yang diperkirakan bisa menyedot anggaran hingga Rp 10 Triliun.


​Pertanyaannya sekarang: seberapa longgar celah pengawasan di level tapak hingga sindikat asing berani menjadikan sudut-sudut wilayah kita sebagai tempat meracik racun kematian? Apakah karena sistem pengawasan lingkungan kita yang terlampau cuek, atau justru ada oknum-oknum "tikus berdasi" yang sengaja menutup mata demi gelimang rupiah instan?


​Publik tentu tidak boleh gampang puas. Penegakan hukum jangan sampai berhenti pada penangkapan para "koki" lapangan atau pesuruh lokal yang sekadar menjadi bemper pengaman. Aparat penegak hukum dituntut untuk membongkar tuntas akar hingga ke daunnya: siapa pemodal utamanya, siapa pelindung di balik layar, dan siapa aktor intelektual kelas kakap yang mendanai seluruh operasi busuk ini.


​Suara Netizen: Kawal Kasusnya, Jaga Jarinya


​Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman narkotika global sudah merangsek masuk hingga ke jantung daerah tanpa pandang bulu. Kini, saatnya publik mengambil peran sebagai pengawas sosial yang kritis. Jangan biarkan bandar besar tidur nyenyak sementara generasi muda menanggung akibatnya.


​Bagaimana menurut kalian, guys? Kenapa jaringan internasional ini bisa begitu berani dan nekat membangun pabrik haram di dalam negeri? Apakah karena masyarakat sekitar sudah terlalu apatis dengan dinamika lingkungan, atau memang ada celah sistemik yang sengaja dibiarkan. (bp). 

Artikel Terkait

​1,2 Ton Sabu Terbongkar di Aceh: Jangan Cuma Tangkap Koki Lapangan, Seret Pemodal Kakapnya Sampai ke Akar
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru