JAWA TIMUR, MCE - Bencana tak terhindarkan telah menorehkan luka mendalam di tiga provinsi besar Sumatra: Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi masif telah merenggut sedikitnya 174 nyawa hingga Jumat (28/11) sore, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan di wilayah tersebut dalam waktu singkat.
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan skala tragedi ini, di mana puluhan orang lainnya masih dalam pencarian.
Sumatra Utara menjadi wilayah yang paling terpukul. Kepala BNPB, Suharyanto, menyebutkan bahwa korban meninggal dunia di provinsi ini mencapai 116 orang, dengan 42 jiwa lainnya masih dilaporkan hilang.
Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga menjadi lokasi dengan jumlah korban tewas tertinggi. Selain korban jiwa, lebih dari 3.800 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah dan harta benda mereka.
Dampak buruk bencana juga meluas ke provinsi tetangga. Di Aceh, total 35 orang meninggal dunia dan 25 orang masih hilang. Sejumlah besar korban berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah. Upaya pendataan masih intensif dilakukan mengingat 4.846 KK telah mengungsi.
Sementara itu, di Sumatra Barat (Sumbar), bencana menewaskan 23 orang dan menyebabkan 12 orang lainnya belum ditemukan. Tanah Datar, Agam, dan Kota Padang termasuk wilayah yang paling terdampak, dengan sekitar 3.900 KK kehilangan tempat tinggal sementara.
Meskipun Suharyanto menyebut bencana di Aceh dan Sumbar "relatif lebih ringan" dibandingkan Sumut, angka-angka ini tetap menggambarkan tingkat keparahan yang luar biasa dan kebutuhan mendesak akan bantuan, terutama bagi belasan ribu pengungsi yang kini menggantungkan hidup pada posko darurat.
Total korban jiwa yang tewas di tiga provinsi ini, yang mencapai 174 orang, menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam dan pentingnya mitigasi bencana yang lebih baik di masa depan. (bp).
