TUBAN, MCE – Suasana khidmat menyelimuti SMA Negeri 1 Kenduran pada Kamis (12/2). Alunan gending Jawa yang mengalun lembut bukan sekadar hiasan telinga, melainkan penanda dimulainya perhelatan akbar bertajuk SMAKA MANTU 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi apik antara Ujian Praktik Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Jawa yang dikemas dalam simulasi pernikahan adat Gagrak Surakarta Hadiningrat.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala SMA Negeri 1 Kenduran, Ibu Nur Ida Hasanatin, M. Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan nilai spiritual.
"Ujian ini bukan sekadar mengejar angka di atas kertas. Ini adalah ruang pembentukan karakter, di mana siswa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan etika. Kami ingin lulusan SMAKA memiliki jati diri bangsa yang kuat di tengah arus modernisasi," tegas beliau di hadapan para siswa yang tampil anggun dan gagah dengan busana adat.
Di bawah bimbingan guru PAI, Bapak M. Ali Nashudin Bashar, SHI., MA., para siswa mempraktikkan prosesi Ijab Qobul. Ketegangan yang dirasakan "calon pengantin" saat melafalkan janji suci di hadapan penghulu menjadi simulasi nyata bagaimana syariat Islam dijalankan dengan runtut dan benar.
Transisi dari sakralnya agama menuju kemegahan budaya terlihat saat prosesi Panggih Temanten dimulai. Di bawah arahan guru Bahasa Jawa, Ibu Fitri Nurwijayanti, S. Pd., siswa unjuk kebolehan dalam menguasai unggah-ungguh dan sastra Jawa. Tidak hanya berperan sebagai pengantin, siswa juga bertugas sebagai:
Pranatacara (Pembawa acara) yang piawai merangkai kata, Pambagyaharja (Penyampai sambutan selamat datang), Pasrah-Tampi (Prosesi serah terima pengantin), dan Ular-ular (Penyampai petuah pernikahan penuh makna).
Panggung budaya ini kian berwarna dengan penampilan Sanggar Tari Kridha Sasmita. Keluwesan gerak dalam Tari Sorote Lintang dan romantisnya Tari Karonsih berhasil memukau penonton. Kehadiran seniman Cak Gendon dari Wonokerto bersama Group Dhagelan Guyon Maton memberikan kesegaran melalui banyolan khas yang sarat pesan moral. Seluruh rangkaian acara kian lengkap dengan iringan musik dari Group Sekar Laras yang menyajikan tembang-tembang Jawa penuh khidmat.
SMAKA MANTU 2026 membuktikan bahwa sekolah mampu menjadi laboratorium budaya yang dinamis. Melalui pembelajaran kontekstual ini, siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi merasakan langsung denyut tradisi leluhur.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari ini ditutup dengan rasa bangga. Sebuah pesan kuat bergema dari sudut Kenduran: bahwa Adat Lestari, Budaya Terjaga, dan Jati Diri Bangsa akan tetap Abadi. (bp).
