TUBAN, MCE – Sekolah bukan lagi sekadar ruang beralas ubin dengan papan tulis yang kaku. Di tengah ancaman krisis iklim dan ketahanan pangan global, Provinsi Jawa Timur mengambil langkah progresif yang menyengat kesadaran publik. Melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) 2026, dunia pendidikan dipaksa keluar dari zona nyaman teori menuju aksi nyata di tanah berlumpur. Selasa (19/5/2026).
SMA Negeri Kenduruan menjadi salah satu garda depan yang mengamini panggilan ideologis ini. Sekolah di ujung barat Tuban ini melebur bersama gerakan masif yang menggerakkan ratusan ribu elemen pendidikan se-Jawa Timur untuk satu tujuan: berdaulat atas pangan dari halaman sekolah sendiri.
Program SIKAP bukan agenda gimmick atau seremonial potong pita yang kerap menghiasi birokrasi. Ini adalah gerakan kolosal. Data dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat, program ini menggerakkan secara serentak 110.481 jiwa—terdiri dari guru, siswa, dan anggota Pramuka—yang tersebar di 754 SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di seluruh penjuru Jawa Timur.
Di SMAN Kenduruan, atmosfer gerakan ini begitu terasa. Tidak ada sekat antara guru dan murid saat tangan-tangan mereka mulai berlumur tanah. Mulai dari proses penanaman, penaburan benih ikan, perawatan intensif, hingga ritual panen raya dilakukan secara mandiri di lahan edukasi sekolah.
"Kami tidak sedang mengajari mereka menjadi petani tradisional, tetapi kami sedang menanamkan kesadaran bahwa masa depan bangsa ini bergantung pada bagaimana kita memperlakukan tanah kita hari ini," ujar salah satu transformator pendidikan di lapangan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa SIKAP 2026 dirancang sebagai respons taktis terhadap masa depan. Lembaga pendidikan dinilai sebagai ruang paling strategis untuk menanamkan kesadaran ekologis dan praktik nyata yang berkelanjutan.
Ada pesan menyengat yang ingin disampaikan melalui program ini: krisis pangan adalah ancaman nyata, dan dunia pendidikan tidak boleh tidur nyenyak di dalam kelas.
Melalui keterlibatan SMAN Kenduruan dalam panen serentak ini, target yang dibidik jauh melampaui angka tonase hasil produksi pangan. Ada tiga pilar karakter yang sedang ditempa secara ekstrem di lapangan:
1. Kemandirian: Memutus mentalitas ketergantungan dan menumbuhkan jiwa penyintas pada generasi muda.
2. Kepedulian Lingkungan: Memaksa siswa berinteraksi langsung dengan alam, memahami ekosistem, dan menghargai setiap bulir pangan yang tumbuh.
3. Semangat Gotong Royong: Meruntuhkan ego individualistis remaja era digital melalui kerja fisik yang komunal dan kolaboratif.
Keterlibatan SMAN Kenduruan dalam SIKAP 2026 adalah bukti bahwa sekolah di daerah tidak boleh dan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Di atas lahan hijau sekolah, para siswa tidak hanya memanen sayur atau ikan, mereka sedang memanen masa depan.
Ketika daerah lain masih berwacana tentang ketahanan pangan di seminar-seminar formal, SMAN Kenduruan bersama ratusan sekolah lain di Jawa Timur telah memberikan jawaban konkret. Mereka membuktikan bahwa ketahanan bangsa sejatinya dimulai dari halaman belakang sekolah. (bp).
