LUMAJANG, MCE – Publik kembali dihenyakkan oleh nalar sehat yang mendadak runtuh di ujung bilah celurit. Duel berdarah alias carok yang terjadi di sebuah kebun sengon, Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, membuka tabir kelam tentang bagaimana dendam kesumat bisa tumbuh subur hanya dari perkara sekantung pakan ternak. Jumat (22/5/2026).
Hasil penyelidikan terbaru kepolisian mengonfirmasi bahwa duel maut antara Abdul Karim Marzuki (55) dan Wasil (44) bukanlah insiden spontan. Ini adalah ledakan dari bom waktu masa lalu yang dipelihara dengan ego. Tragisnya, pemicu awalnya hanyalah masalah sepele: selembar daun nangka.
Dendam Karatan di Balik Pakan Ternak
Menurut kesaksian Saniyeh, istri dari mendiang Abdul Karim, konflik ini adalah residu pertikaian lama. Di masa lalu, Saniyeh pernah mengambil daun nangka milik Wasil untuk pakan ternak. Tak terima, Wasil meradang hingga melabrak rumah korban.
Siapa sangka, urusan daun nangka yang sudah lewat bertahun-tahun itu ternyata membekas menjadi dendam karatan. Gesekan kecil di jalan saat kendaraan mereka berserempetan menjadi pemantik sempurna. Ego yang tersenggol membuat kedua pria paruh baya ini memilih jalur primitif: menyelesaikan masalah dengan darah. Sebelum berangkat menjemput ajal, Abdul Karim bahkan sempat berpamitan dan meminta doa kepada istrinya—sebuah ritual pamungkas yang mengerikan seolah ia tahu salah satu dari mereka tidak akan pulang dalam keadaan bernyawa.
"Urusan perut ternak yang dihargai dengan nyawa manusia. Di mana letak akal sehat ketika celurit sudah berbicara?"
Dari Duel 'Ksatria' Menjadi Tindakan Pengecut
Netizen sering kali mengaitkan carok dengan tradisi mempertahankan harga diri secara jantan. Namun, apa yang terjadi di kebun sengon Klakah ini justru mengubur narasi "kejantanan" tersebut dan menggantinya dengan aksi pengecut yang keji.
Saat Saniyeh menyusul ke lokasi kejadian, ia mendapati pemandangan mengerikan: Abdul Karim dan Wasil sudah terduduk lemas, sama-sama sekarat memegang luka robek akibat sabetan senjata tajam. Wasil menderita luka parah di bagian perut, sementara Abdul Karim pun tak berdaya bersimbah darah.
Di titik kritis inilah, hukum rimba yang curang bekerja.
Bukannya melerai atau membawa kedua korban ke rumah sakit, adik Wasil diduga kuat datang ke lokasi membawa amarah buta. Melihat kakaknya terluka, ia langsung melayangkan bacokan brutal ke arah kepala Abdul Karim yang sudah tidak mampu membela diri. Abdul Karim pun tewas seketika di tempat akibat serangan pengecut tersebut.
Ironi Akhir: Satu di Liang Lahat, Satu di Rumah Sakit, Satu Menuju Penjara
Kini, drama berdarah gara-gara daun nangka ini menyisakan penyesalan yang terlambat.
• Abdul Karim Marzuki (55) harus meregang nyawa dan kini telah terbujur kaku di dalam kubur.
• Wasil (44) masih terkulai lemas, berjuang bertahan hidup dalam perawatan intensif di RSUD dr. Haryoto Lumajang dengan perut robek.
• Adik Wasil kini menjadi buruan utama atas tindakan brutalnya yang mengubah duel menjadi pembunuhan berencana.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dinamika sosial masyarakat. Ketika hukum adat atau ego personal diletakkan di atas hukum negara dan akal sehat, maka nyawa manusia tak ada harganya lagi—bahkan lebih murah dibanding seikat daun nangka. Polisi kini tengah melakukan pengejaran intensif terhadap pelaku tambahan untuk memastikan keadilan tegak di atas tanah Lumajang. (bp).
