LAMONGAN, MCE - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) setiap tanggal 23 Juli kerap diwarnai dengan spanduk megah, foto bersama, dan panggung seremonial. Namun, di balik riuk-pikuk perayaan tersebut, ada fakta kelam yang menyengat nurani: puluhan ribu anak Indonesia masih berjuang di tengah ancaman kekerasan, kesenjangan pendidikan, hingga bahaya dunia digital.
Kritik tajam ini ditegaskan oleh M. Luthfillah, M.Ag., Ketua Komisi Nasional Pendidikan (Komnasdik) Kabupaten Lamongan. Ia menyebut bahwa HAN harus berhenti menjadi agenda "gugur kewajiban" tahunan dan wajib bertransformasi menjadi gerakan nyata untuk menyelamatkan masa depan bangsa.
"Jangan sampai Hari Anak Nasional cuma habis di panggung pidato. Kita sedang berbicara tentang masa depan 79,6 juta anak Indonesia. Ini bukan sekadar angka statistik, ini adalah nyawa, mental, dan masa depan peradaban kita," tegas Luthfillah.
Fakta Menyengat: Angka Kekerasan yang Bikin Elus Dada
Luthfillah menyoroti deretan data memprihatinkan yang membuktikan bahwa ruang aman bagi anak masih sangat minim. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat ada 16.972 kasus kekerasan pada anak, yang kini kian marak merambah ke dunia digital.
Tak hanya itu, ancaman di era serba internet juga kian mengintai.
Jebakan Digital: Sebanyak 89% anak usia 10–17 tahun sudah aktif mengakses internet, namun hanya 21% yang benar-benar literat digital. Tanpa pengawasan, anak-anak rentan menjadi korban cyberbullying, eksploitasi, hingga konten jahat.
Putus Sekolah & Stunting: Angka Partisipasi Sekolah (APS) tingkat SMA baru menyentuh 82,1%, menandakan masih ada jurang lebar dalam akses pendidikan. Di sisi lain, angka stunting masih bertengger di angka 19,8%—sebuah lampu merah bagi tumbuh kembang generasi penerus.
Melampaui Seremoni: Saatnya Sinergi Nyata
Mengusung tema HAN "Anak Terlindungi, Indonesia Maju: Suara Anak Membangun Bangsa", Luthfillah mendesak seluruh elemen masyarakat—mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga media—untuk bergerak bersama (pentahelix).
Menurutnya, evaluasi terhadap 456 wilayah Kota Layak Anak (KLA) tidak boleh sekadar menjadi pajangan di atas kertas. Suara anak melalui Forum Anak Nasional harus benar-benar didengar dan dijadikan pijakan kebijakan, bukan sekadar pelengkap acara.
"Menaklukkan kelalaian kita terhadap anak memang tidak mudah, tapi investasi pada anak adalah satu-satunya cara menyelamatkan peradaban. Jika hari ini kita lalai melindungi mereka, kita sedang merancang kehancuran bangsa di masa depan," pungkasnya menohok. (bp).
#HariAnakNasional #PerlindunganAnak #KomnasdikLamongan #StopKekerasanAnak #DaruratDigitalAnak
