Oleh: M. Luthfillah, M.Ag.
(Ketua Komisi Nasional Pendidikan Kabupaten Lamongan & Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kementerian Agama RI 2022)
Lamongan, MCE - Tepat pada 17 Agustus 2026, Republik Indonesia resmi menapaki usia 81 tahun. Jika disetarakan dengan usia manusia, angka ini sudah masuk fase matang—bahkan sepuh. Namun, pertanyaannya: apakah kematangan usia ini sejalan dengan kemerdekaan substansial yang kita rasakan?
Dulu, para pendiri bangsa dan pejuang kita bertaruh nyawa melawan penjajah fisik bermodalkan bambu runcing. Hari ini, musuh yang kita hadapi tidak lagi datang berseragam militer asing, melainkan berwajah lokal: korupsi yang menggurita, kebodohan yang dipelihara, dan kemiskinan yang kerap dijadikan komoditas.
Sangat ironis ketika kita membanggakan infrastruktur megah, sementara fondasi manusianya rapuh digerus kebejatan moral.
Realitas Pahit di Usia 81 Tahun
Kemerdekaan hari ini kerap ternoda oleh kontradiksi sosial yang mencolok mata. Publik disuguhi pemandangan satir di berbagai lini kehidupan:
• Percuma jalan tol dibangun semulus kaca, kalau anggaran pembangunannya justru jadi bancakan koruptor.
• Percuma fasilitas sekolah megah bertebaran, kalau di sisi lain masih ada guru-guru honorer yang digaji jauh dari kata layak.
• Percuma gelontoran bansos bernilai triliunan, kalau mental masyarakat disetir untuk terus menengadah, sementara distribusi di bawah sarat pungutan dan ketidakjujuran.
Jika dibiarkan, usia 81 tahun ini hanya akan menjadi seremoni tahunan tanpa makna. Oleh karena itu, PR terbesar bangsa ini di usianya yang ke-81 mengerucut pada tiga agenda utama:
1. Merdeka dari Kebodohan
Kunci utamanya ada di sektor pendidikan. Sekolah dan madrasah harus dikembalikan marwahnya sebagai tempat paling terhormat, bukan sekadar pabrik ijazah.
• Kesejahteraan Guru: Mustahil mencetak generasi unggul jika tenaga pendidiknya masih dibebani kecemasan dapur.
• Transformasi Literasi: Anak-anak kita harus didorong untuk cinta membaca dan berpikir kritis, bukan sekadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll konten nirfaedah.
• Peran Orang Tua: Gadget bukanlah pengasuh pengganti. Perhatian nyata dan pendampingan orang tua di rumah jauh lebih berharga daripada fasilitas digital tanpa batas.
2. Merdeka dari Kemiskinan
Melepaskan diri dari rantai kemiskinan tidak cukup dengan memberi ikan, melainkan harus mengajarkan cara memancing. Pemerintah pusat, daerah, hingga level desa wajib fokus memberikan keterampilan nyata.
• Cetak generasi muda yang berjiwa wirausaha, mandiri, piawai mengelola UMKM, bertani modern, hingga menguasai ekonomi digital.
• Ubah mentalitas instan "mental bansos" menjadi "mental produsen" yang produktif dan mandiri.
3. Merdeka dari Korupsi (Penyakit Paling Ganas)
Korupsi adalah kejahatan kemanusiaan yang merampas hak anak-anak untuk sekolah, hak pasien untuk berobat, dan hak rakyat kecil atas keadilan sosial. Memberantasnya tidak bisa hanya ditonton, melainkan harus dilawan dengan langkah taktis:
1. Mulai dari Diri Sendiri: Ajarkan integritas di rumah. Jangan biasakan anak-anak melihat budaya suap, titipan curang, atau mengambil hak yang bukan miliknya. Korupsi kakap selalu bermula dari kebiasaan kecil yang dimaklumi.
2. Transparansi Tanpa Tapi: Anggaran desa, dana BOS sekolah, hingga pos bantuan sosial wajib dipajang secara terbuka agar bisa diawasi publik. Warga harus berani bersuara dan melapor jika menemukan kejanggalan.
3. Efek Jera Maksimal: Hukuman bagi koruptor tidak boleh setengah-setengah. Wajibkan mereka mengembalikan kerugian negara, jatuhkan hukuman berat, dan sita seluruh asetnya tanpa pandang bulu.
4. Pendidikan Anti-Korupsi Sejak Dini: Tanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan penolakan terhadap gratifikasi melalui kurikulum sekolah, madrasah, hingga kegiatan kepanduan seperti Pramuka.
Penutup: Menyongsong Indonesia Emas 2045
Delapan puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk terus-menerus mengulang kesalahan yang sama. Kemerdekaan ini harus diisi secara nyata melalui tiga instrumen utama: Belajar, Kerja, dan Jujur.
Jika ketiga prinsip ini konsisten kitapegang bersama—dari tingkat RT, guru, kepala desa, hingga pucuk pimpinan tertinggi—maka impian menatap Indonesia Emas 2045 bukan sekadar utopia di atas kertas.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!
"Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju."
Merdeka!
Lamongan, 17 Agustus 2026
