Selasa, 30 Desember 2025

​Jejak Liar Liberika: Original Qahwah dan Kesetiaan pada Tanah Vulkanik Lumajang




​LUMAJANG, MCE - Di kaki Gunung Semeru yang agung dan lereng Gunung Lemongan yang purba, udara dingin tidak hanya membawa kabut, tetapi juga aroma tanah basah dan rahasia yang tersimpan rapat. Di tengah kepungan tren kopi Arabika dan Robusta yang seragam, lahir sebuah anomali bernama Original Qahwah. Ia bukan sekadar kopi hitam; ia adalah pernyataan sikap dari tanah Lumajang yang jujur dan tanpa kompromi. Rabu (31/12/2025). 


​Saat air panas menyentuh bubuk hitam Original Qahwah, sebuah kejutan instan menyeruak: aroma nangka matang yang kuat dan tak lazim. Itulah identitas unik Kopi Liberika. Diikuti nuansa earthy, woody, serta sentuhan herbal yang tegas, kopi ini tidak hadir untuk memanjakan lidah dengan kemanisan semu. Ia memiliki karakter liar—asam yang rendah, body yang tebal, dan aftertaste panjang yang mengingatkan kita pada aroma kayu terbakar di perapian desa.


​Di balik setiap kemasan Original Qahwah, ada sosok Abdul Rohman, pria asal Desa Bades, Pasirian, yang memilih "jalur sunyi". Di usia 45 tahun, saat pelaku usaha lain berlomba mengejar pasar massal, Abdul justru memeluk Liberika—varietas yang sering kali terpinggirkan.


​"Liberika punya karakter yang tidak dimiliki kopi lain. Ia tegas, kuat, dan jujur apa adanya," ungkap Abdul dengan nada penuh keyakinan.


​Bagi Abdul, kopi adalah dialog antara manusia dan alam. Ia bekerja sama dengan petani lokal yang masih setia merawat pohon-pohon Liberika tua di tanah vulkanik yang kaya mineral. Prosesnya jauh dari kata instan; mulai dari pemilihan buah merah hingga penyangraian, semuanya dilakukan dengan ketelitian tinggi untuk menjaga kemurnian rasa.


​Original Qahwah tidak diproduksi secara massal. Kelangkaannya adalah kekuatannya. Produk ini hadir untuk para penikmat kopi sejati—mereka yang menghargai proses, mencintai sejarah, dan tidak takut pada rasa yang "keras". Tanpa tambahan perasa maupun campuran varietas lain, setiap sesapan Original Qahwah membawa Anda bertualang ke lereng gunung tempat ia berasal.


​Tersedia dalam kemasan 200 gram hingga 500 gram, kopi ini adalah simbol dari kemewahan lokal. Ia tidak berusaha menjadi kopi yang disukai semua orang, namun ia akan selalu diingat oleh mereka yang memahami arti sebuah jati diri. (fyan). 

Artikel Terkait

​Jejak Liar Liberika: Original Qahwah dan Kesetiaan pada Tanah Vulkanik Lumajang
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru