BOJONEGORO, MCE — Akhirnya, setelah jeritan emak-emak soal gas melon yang mendadak "gaib" memenuhi jagat maya, para pejabat kita bangun dari kursinya. Rabu (18/03), Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, resmi melakukan aksi sidak ke pangkalan LPG. Pertanyaannya: ini beneran solusi atau cuma seremonial biar rakyat kalem?
Sudah jadi rahasia umum, tiap kali gas langka, harga di pengecer mendadak terbang tinggi kayak roket. Sementara itu, rakyat kecil cuma bisa pasrah sambil muter-muter bawa tabung kosong. Menanggapi fenomena "gas hilang tanpa jejak" ini, Wabup Nurul nggak sendirian; beliau bawa rombongan dari Dinas Perdagangan sampai Polres Bojonegoro. Mungkin biar oknum yang hobi nimbun agak sedikit keringat dingin.
"Alhamdulillah, bersama Polres kami sudah cek langsung kondisi di lapangan," ujar Nurul Azizah dengan nada kalem, padahal di luar sana warga sudah mulai 'panas'.
Dalam dialognya dengan pengelola pangkalan, Wabup memberikan peringatan keras (yang semoga saja bukan sekadar formalitas): Harga gas 3 kg HARUS Rp18.000! Tidak boleh naik setali tiga uang pun.
Kita semua tahu regulasi di atas kertas seringkali beda nasib dengan realitas di gang-gang sempit. Sidak hari ini memang memastikan stok ada, tapi besok? Lusa? Apakah distribusi ini bakal lancar jaya atau kembali macet begitu rombongan sidak pulang ke kantor?
Masyarakat Bojonegoro nggak butuh janji manis atau foto dokumentasi yang estetik. Yang dibutuhkan cuma satu: Pas beli gas, barangnya ada dan harganya nggak bikin kantong bolong! Jangan sampai LPG melon yang disubsidi untuk rakyat miskin, malah mampir ke dapur-dapur pengusaha besar yang pura-pura tidak tahu aturan.
Kita pantau terus, ya! Jangan sampai sidak ini cuma jadi "obat penenang" sementara di tengah drama kelangkaan yang nggak habis-habis. (bp).
