Selasa, 23 Juni 2026

URGENSI MILAD 'AISYIYAH: MENJAGA API PERADABAN INDONESIA




Oleh: [Gus Luthfi Ketua KMM PDM Lamongan]


Setiap tanggal 27 Rajab, 'Aisyiyah merayakan Milad. Bukan sekadar ulang tahun organisasi, tapi peringatan kebangkitan kesadaran perempuan Indonesia. 107 tahun sejak 1917, 'Aisyiyah lahir bukan karena ikut tren, tapi karena ada luka bangsa yang harus diobati: kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan perempuan¹. Pertanyaannya: di 2026 ini, masih urgensikah Milad 'Aisyiyah? Jawabnya: justru semakin urgent.


*1. 'Aisyiyah Adalah Sekolah Peradaban Pertama Kaum Perempuan*  

Sebelum ada sekolah formal untuk perempuan, 'Aisyiyah sudah buka "Sekolah Guru Putri" dan "Kweekschool". K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan paham: membangun bangsa dimulai dari mendidik ibunya². Perempuan berilmu = melahirkan generasi berilmu. 


Urgensi Milad 'Aisyiyah hari ini adalah mengingatkan kita: krisis peradaban bukan karena kurangnya infrastruktur, tapi karena rapuhnya pendidikan karakter. 'Aisyiyah mengajarkan "ngaji + ngopi + ngopeni": ngaji Al-Qur'an, ngopi diskusi masalah umat, ngopeni rakyat kecil. 3 ini yang hilang dari politik kita sekarang. Milad jadi momentum mengecek ulang: masihkah kader 'Aisyiyah jadi guru peradaban atau sudah terjebak jadi "ibu-ibu arisan" saja?


*2. Benteng Akhlak di Tengah Badai Disrupsi Digital*  

Anak kita sekarang dibesarkan YouTube dan TikTok, bukan dongeng ibu. Hoaks, pornografi, judi online menyerang rumah tangga. Negara sibuk bikin regulasi, tapi benteng paling depan tetap ibu di rumah³. 


Inilah urgensi 'Aisyiyah. Lewat 20.000 TK/ABA, 6.000 Posyandu, dan ribuan Majelis Taklim⁴, 'Aisyiyah adalah garda terdepan menangkal kerusakan moral. Milad mengingatkan: tugas 'Aisyiyah bukan hanya bikin kue bazar. Tapi mencetak ibu yang paham "qaulan sadida" - ucapan yang benar dan mendidik QS. An-Nisa:9⁵. Ibu yang bisa bilang ke anaknya: "Nak, HP itu alat, bukan Tuhan". Tanpa 'Aisyiyah, siapa lagi yang mau kerja senyap tapi dampaknya 30 tahun ke depan?


*3. Menjawab Krisis Kemanusiaan dengan Amal Usaha*  

Indonesia 2026 menghadapi 3 krisis: stunting, kemiskinan ekstrem, dan bencana iklim. 'Aisyiyah menjawab bukan dengan orasi, tapi dengan Rumah Sakit, Universitas, Panti Asuhan, dan Bank Sampah⁶. Itu namanya "Islam Berkemajuan": iman yang turun jadi amal nyata.


Urgensi Milad adalah evaluasi: sudahkah amal usaha kita menjawab problem bangsa, atau hanya jadi simbol? RS PKU Muhammadiyah yang merawat pasien tanpa membedakan agama, TK ABA yang gratis untuk anak miskin, itu dakwah paling keras. Milad 'Aisyiyah harus jadi "rapat kerja akbar" untuk melipatgandakan amal usaha yang menyentuh rakyat, bukan hanya rapat seremonial.


*4. Menjaga Indonesia dari Radikalisme dan Liberalisme*  

Perempuan hari ini terjepit dua kutub: radikalisme yang mengurung, dan liberalisme yang membebaskan tanpa batas. Keduanya sama-sama merusak. 'Aisyiyah menawarkan jalan tengah: perempuan berkemajuan⁷. Berilmu, beramal, berakhlak, tapi tetap memimpin di ruang publik.


Milad adalah penegasan identitas. 'Aisyiyah tidak lahir untuk jadi "sayap partai" atau "klub sosialita". 'Aisyiyah lahir untuk menegakkan "amar ma'ruf nahi munkar" dengan cara perempuan: lembut tapi tegas, persuasif tapi berprinsip. Di era polarisasi, Indonesia butuh suara ibu-ibu 'Aisyiyah yang menenangkan, bukan memecah.


*Penutup: Milad Bukan Nostalgia, Tapi Mobilisasi*  

Bu, Milad tanpa aksi = arwah tanpa raga. Api 'Aisyiyah dinyalakan Nyai Ahmad Dahlan 107 tahun lalu. Tugas kita hari ini bukan memuji apinya, tapi menjaga agar tidak padam dan menyalakan obor baru.


Urgensi Milad 'Aisyiyah adalah urgensi Indonesia itu sendiri. Selama masih ada anak yang putus sekolah, ibu yang stunting, dan keluarga yang tercerai-berai karena gadget, maka 'Aisyiyah harus terus ada. Karena membangun peradaban itu tugas panjang. Dimulai dari rumah, dikerjakan oleh perempuan, dan dinilai oleh Allah.


Selamat Milad 'Aisyiyah. Bismillah, lanjutkan perjuangan. "Dan katakanlah yang baik-baik kepada manusia" QS. Al-Baqarah:83⁸.


---


### *FOOTNOTE*


¹ Tim Sejarah PP Muhammadiyah, _Sejarah 'Aisyiyah 1917-2017: Satu Abad Berkhidmat untuk Umat_ (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017), 23.  

² Haedar Nashir, _Gerakan Islam Syariah: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia_ (Bandung: Mizan, 2013), 89.  

³ Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, _Laporan Survei Indeks Literasi Digital Indonesia 2024_ (Jakarta: Kominfo, 2024), 41.  

⁴ Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, _Data Amal Usaha 'Aisyiyah 2025_ (Yogyakarta: PP 'Aisyiyah, 2025).  

⁵ Kementerian Agama RI, _Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid 3_ (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019), 512.  

⁶ Haedar Nashir, _Islam Berkemajuan: Manifesto Gerakan Muhammadiyah_ (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2020), 112.  

⁷ Siti Noordjannah Djohantini, _Perempuan Berkemajuan: Telaah Pemikiran 'Aisyiyah_ (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2019), 67.  

⁸ Kementerian Agama RI, _Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid 1_, 134.


---


### *DAFTAR PUSTAKA - Gaya APA Style 7th Ed.*


Djohantini, S. N. (2019). _Perempuan Berkemajuan: Telaah Pemikiran 'Aisyiyah_. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.


Kementerian Agama RI. (2019). _Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid 1 & 3_. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.


Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2024). _Laporan Survei Indeks Literasi Digital Indonesia 2024_. Jakarta: Kominfo.


Nashir, H. (2013). _Gerakan Islam Syariah: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia_. Bandung: Mizan.


Nashir, H. (2020). _Islam Berkemajuan: Manifesto Gerakan Muhammadiyah_. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.


Pimpinan Pusat 'Aisyiyah. (2025). _Data Amal Usaha 'Aisyiyah 2025_. Yogyakarta: PP 'Aisyiyah.


Tim Sejarah PP Muhammadiyah. (2017). _Sejarah 'Aisyiyah 1917-2017: Satu Abad Berkhidmat untuk Umat_. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Artikel Terkait

URGENSI MILAD 'AISYIYAH: MENJAGA API PERADABAN INDONESIA
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru