Kamis, 13 Agustus 2026

​65 Tahun Gerakan Pramuka: Antara Algoritma AI, Adiksi Gawai, dan Ancaman Kehilangan Generasi



OPINI / BERITA — Pada 14 Agustus 2026, Gerakan Pramuka genap menginjak usia 65 tahun. Di tengah gempuran pesatnya Kecerdasan Buatan (AI) dan dominasi ekosistem digital, sebuah pertanyaan menohok mencuat ke permukaan: Apakah Pramuka masih relevan, atau sekadar menjadi beban seremonial mingguan di sekolah?


​Hari ini, anak-anak Gen Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam kepungan teknologi. Musik diciptakan AI, jawaban tugas dicari via Google, dan interaksi sosial dipangkas lewat layar gawai. Fenomena "instant generation" lahir sebagai konsekuensi: generasi yang instan, minim kesabaran, tumpul rasa empati, dan gagap dalam kerja tim.


​Data KPAI 2025 bahkan mencatat angka mengkhawatirkan: 78% anak usia sekolah di Jawa Timur menghabiskan lebih dari 5 jam sehari di depan layar. Dampaknya nyata—kasus cyberbullying melonjak, empati sosial merosot, dan ketahanan fisik melemah.


​Di titik kritis inilah, Gerakan Pramuka seharunya hadir sebagai benteng pertahanan terakhir.


​AI Cerdas, Tapi Tak Punya Hati


"Saat sekolah terus mengejar capaian kognitif dan AI menawarkan efisiensi tanpa batas, Pramuka hadir mengisi ranah yang tak bisa disentuh oleh algoritma: afektif dan psikomotorik," tegas M. Luthfillah, M.Ag., Ketua Komisi Nasional Pendidikan Kabupaten Lamongan sekaligus Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kemenag RI.


​Nilai-nilai dalam Dasa Dharma dan Tri Satya bukanlah sekadar hafalan lapuk. Disiplin, cinta alam, gotong royong, dan kepedulian sosial adalah antidote (penawar racun) paling ampuh melawan degradasi moral era digital.


​Aksi nyata di lapangan membuktikan hal tersebut. Di Lamongan misalnya, Gugus Depan Pramuka tetap aktif terjun dalam program "Pramuka Peduli Bencana" dan "Kampung Literasi". Ini menegaskan bahwa pengalaman empirik menjejakkan kaki di tanah, memegang tali, dan menolong sesama tak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan manapun.


​Jangan Biarkan Pramuka Mati Dibunuh Zaman


​Agar tidak sekadar jadi fosil sejarah atau parade seragam di hari Jumat, Gerakan Pramuka harus berani berbenah menuju Pramuka 5.0 melalui tiga langkah radikal:

​1. Digitalisasi Tanpa Kehilangan Jati Diri: Integrasikan teknologi dalam kegiatan. Penggunaan SKU digital, pemanfaatan drone untuk simulasi SAR, hingga pelatihan dasar coding untuk survival.

​2. Kembali ke Esensi, Hentikan Seremonial: Kembalikan Pramuka ke alam lepas—kemah, hiking, dan bakti sosial nyata. Pramuka harus menarik, bukan sekadar baris-berbaris formalitas yang membosankan.

​3. Sinergi Nyata: Sekolah, pemerintah, dan orang tua harus berhenti menganggap Pramuka sebagai beban kegiatan ekstrakurikuler.


​Peringatan Keras untuk Pemimpin Masa Depan


​Di usianya yang ke-65, Pramuka tidak boleh kalah oleh zaman. Pemerintah daerah, Kwartir Cabang (Kwarcab), hingga pihak sekolah didesak untuk tidak memangkas alokasi anggaran dan perhatian terhadap pembinaan Pramuka.


​Di era di mana algoritma mengendalikan pikiran manusia, kita justru semakin membutuhkan manusia yang memiliki hati dan karakter.


​"Pramuka adalah jawabannya. Karena jika kita gagal membentuk karakter anak-anak kita hari ini, maka 10 tahun dari sekarang, kita hanya sedang menunggu waktu untuk kehilangan arah dan calon pemimpin masa depan."


Penulis: M. Luthfillah, M.Ag. (Ketua Komisi Nasional Pendidikan Kabupaten Lamongan / Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kemenag RI)
Ditulis di: MAN 2 Lamongan, 14 Agustus 2026

Artikel Terkait

​65 Tahun Gerakan Pramuka: Antara Algoritma AI, Adiksi Gawai, dan Ancaman Kehilangan Generasi
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berita Terbaru