JAKARTA, MCE – Sepertinya kutukan "Jumat Keramat" masih jauh lebih ampuh daripada jimat politik mana pun. Kali ini, giliran Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, yang harus mencicipi dinginnya rompi oranye setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat (10/4) malam.
Gatut, yang baru saja menikmati empuknya kursi kekuasaan periode 2025-2030 hasil kemenangan tipis-tipis di Pilkada 2024, kini harus rela "pindah domisili" sementara ke Jakarta. Bukan untuk studi banding, melainkan untuk setor muka di Gedung Merah Putih.
Rombongan ‘Wisata’ Korupsi
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa Gatut tidak sendirian. KPK memboyong "pasukan" sebanyak 13 orang dari total 18 orang yang sempat diamankan. Rombongan ini tiba bertahap di Jakarta sejak Sabtu pagi, seolah sedang melakukan tur wisata birokrasi yang berakhir di ruang pemeriksaan.
"Selain mengamankan para pihak, tim juga mengamankan barang bukti di antaranya dalam bentuk uang tunai," ujar Budi dengan nada datar, seolah sudah bosan melihat tumpukan uang haram yang terus-terusan muncul dari kantong pejabat.
Selain sang Bupati, 12 orang di antaranya merupakan "anak buah" Gatut di lingkungan Pemkab Tulungagung. Setia sampai akhir memang bagus, tapi kalau setianya sampai ke jeruji besi, tentu itu cerita lain.
Si Pengusaha Bangunan yang Lupa Fondasi Etika
Rekam jejak Gatut sebenarnya cukup berwarna. Sebelum jadi orang nomor satu di Tulungagung, ia dikenal sebagai pengusaha toko bangunan sukses. Sayangnya, meski ahli dalam urusan semen dan bata, ia tampaknya gagal membangun fondasi integritas yang kokoh.
Tak hanya itu, manuver politiknya pun sempat jadi omongan saat ia memutuskan "pindah haluan" dari PDIP ke Partai Gerindra menjelang pemilihan. Sayangnya, loncatan politik tersebut kini justru mendaratkannya tepat di pelukan penyidik KPK.
Jawa Timur: ‘Hat-trick’ OTT di Awal Tahun
Penangkapan Gatut ini semakin memperpanjang daftar hitam kepala daerah di Jawa Timur yang hobi "main mata" dengan anggaran. Sebelum Tulungagung "pecah telur", Bupati Ponorogo dan Wali Kota Madiun sudah lebih dulu mencatatkan nama mereka di buku tamu KPK awal tahun ini.
Sepertinya, Jawa Timur sedang mengalami tren "Hat-trick" OTT yang sama sekali tidak membanggakan. Bagi para pejabat lain yang masih asyik "bermain", ingatlah: KPK tidak butuh reservasi untuk menjemput Anda di hari Jumat.
Kini, warga Tulungagung hanya bisa mengelus dada. Janji-janji manis saat kampanye dengan perolehan suara 50,72 persen itu seolah menguap bersamaan dengan deru mesin pesawat yang membawa sang Bupati menuju meja hijau. (bp).
#KPK #OTT #Tulungagung #GatutSunuWibowo #Korupsi #JawaTimurUpdate
